Mendirikan Rintisan Start Up, Mahasiswa Perlu Perhatikan Hal Ini

Aan haryono, Koran SI · Selasa 09 Februari 2021 14:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 09 65 2359180 mendirikan-rintisan-start-up-mahasiswa-perlu-perhatikan-hal-ini-GpZncAcnPm.jpg Mahasiwa mendirikan rintisan start up. (Foto:Freepik)

Selanjutnya, katanya, permasalahan yang sering terjadi pada mahasiswa yang merintis start up adalah paradigma jalan dulu saja, kalau sudah besar baru buat proyeksi keuangan.

Paradigma tersebut kurang tepat karena memulai start up di tahap awal juga perlu mempersiapkan financial projection atau proyeksi keuangan.

Financial projection biasanya terdiri dari forecast neraca, laporan rugi-laba, dan forecast arus kas. Selain itu, hal yang paling penting adalah analisa investasi untuk mengetahui break event point (BEP), payback period, dan perhitungan yang lain.

Baca Juga:  Farid Hendro Ciptakan Ban Tanpa Udara dan Anti Kempes, Berminat?

Ia juga membeberkan, persiapan intellectual property seringkali dilupakan atau bahkan tidak terpikirkan oleh para pendiri start up khususnya mahasiswa. Hal tersebut karena menurut mereka, bisnisnya masih kecil sehingga tidak perlu ada badan hukum dan tidak perlu memikirkan paten untuk formula atau temuan tertentu.

Bagi Aschania, persepsi tersebut adalah hal salah. Menurunya, jika memang serius membangun start up maka intellectual property atau HAKI harus diperhatikan. “Sederhananya, bagaimana badan hukum perusahaan. Termasuk apakah merek produk sudah didaftarkan,” lanjutnya.

Hal tersebut penting diperhatikan terlebih oleh CEO start up. CEO perusahaan pemula harus berpandangan jauh ke depan terkait melindungi bisnisnya.

Intellectual property itu sendiri biasanya meliputi copyrights, trademark, patent, trade secret dan lain sebagainya. Intellectual property merupakan business tools yang penting terutama untuk memperkuat keunggulan kompetitif dan melindungi bisnis ke depan.

Selain itu, tambahnya, perusahaan rintisan atau pemula membutuhkan mentoring dari mentor-mentor yang tepat. Hal tersebut karena karena pada umumnya perusahaan pemula sangat rentan terhadap kegagalan atau kebangkrutan terutama di fase awal pendirian. 

(Vitri)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini