JAKARTA - Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, memiliki sumber daya alam berupa tanaman kemiri yang berlimpah. Namun sayangnya belum termanfaatkan secara optimal.
Para petani menjual kemiri dengan harga Rp10.000 sampai dengan Rp20.000 per kilo. Padahal, jika diolah lebih lanjut bisa menghasilkan produk yang bernilai.
Untuk memanfaatkan kekayaan alam tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abmas) dan tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Departemen Teknik Mesin Industri, Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membantu merancang alat pengolah biji kemiri menjadi minyak kemiri.

Teknologi Tepat Guna ini dirancang oleh tim Abmas dan KKN yang terdiri dari delapan mahasiswa dibimbing oleh Dedy Zulhidayat Noor ST MT PhD dan diterapkan di Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Delapan mahasiswa tersebut adalah Fitra Bagus Hendi Prabowo, Ngurah Gatot Saguna Wijaya, Mohamad Tedi Prasetiyo, Aditya Yoga Eka Nugraha, Diego Surya Dewangga, Wahyu Dwi Putranto, Rahmad Rahardian Dias Affandi, dan Amirah Cetta Elysia.
Baca Juga: SNMPTN 2021, Cara Registrasi dan Verifikasi Akun di LTMPT
“Jika dibandingkan dengan kemiri yang sudah diolah terpisah dari cangkang dan juga menjual minyak kemiri, maka para petani akan lebih mendapatkan keuntungan yang besar dengan memanfaatkan kekayaan alam secara optimal,” ujar Aditya Yoga Eka Nugraha, salah satu tim Abmas, seperti dilansir dari laman ITS, Rabu (13/1/2021).
Lebih lanjut, mahasiswa yang akrab disapa Yoga ini menyampaikan bahwa alat pengolah biji kemiri menjadi minyak kemiri dibuat dengan konsep proses manufaktur. Keunggulan alat tersebut, yaitu dapat memecah biji kemiri dengan jumlah banyak sekaligus dengan hasil yang bisa langsung diolah menjadi minyak kemiri.