“Dua keahlian yang dibutuhkan untuk terus melakukan reinovasi adalah listen and break what’s not broken, If you continue doing exactly what you’re doing without paying attention to what’s going on outside in the market you’re surely going to die,” terangnya.
Ia menggambarkan, Kodak dan Fujifilm merupakan dua produk yang pas untuk dijadikan contoh pernyataan yang ia lontarkan sebelumnya. Kodak dan Fujifilm berangkat dari brand yang memiliki spesialisasi di bidang film di awal kemunculan, namun, Kodak saat ini sudah tidak ada sedangkan Fujifilm masih terus berkembang karena Fujifilm terus menerus menemukan hal yang baru.

Tak cukup satu contoh, ia memberikan contoh lain sebuah brand handphone yang dulunya merupakan satu-satunya yang berada di pasaran. Namun, dalam enam tahun market share dari brand tersebut menurun hingga 90%.
Dia menyimpulkan, hal tersebut terjadi karena kurangnya visi yang jelas di dalam perusahaan tersebut dan merasa sudah di posisi aman.
“So, we need to innovate to stay relevant,” sambungnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)