Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kenapa Muda-mudi Swedia lebih Suka Tinggal Sendirian?

Kenapa Muda-mudi Swedia lebih Suka Tinggal Sendirian?
Mahasiswa di Swedia (BBC Indonesia)
A
A
A

Christoffer Sandström (26), yang tinggal sendirian sejak berusia 21 tahun, telah sangat terbuka menceritakan perjuangannya setelah pindah dari kampung halamannya di Sundsvall ke flat sewaannya di Stockholm, yang berjarak 380 kilometer.

"Momen itu mengganggu sedikit kesehatan mental saya dan saya tidak pernah merasa seterisolasi itu," ujarnya.

"Saya merasa tidak bergairah, lebih sedih dan tidak semangat di pagi hari atau ketika matahari terbit. Saya hanya ingin waktu berjalan lebih cepat dan segera menyelesaikan hari."

Saat dalam perjalanan ke Australia, ia tinggal bersama teman-temannya di sebuah rumah dan ia merasa hal itu lebih ringan dilakukan.

"Ada tekanan yang besar terhadap anak muda (di Swedia) untuk menjadi orang dewasa dan berperilaku layaknya orang dewasa," ungkapnya.

"Akan tetapi lebih sulit untuk hidup sendirian daripada hidup bersama teman dan keluarga Anda."

Ia merasa lebih baik semenjak menjalin pertemanan di tempat kerjanya dan mengikuti kegiatan olahraga. "Terkadang saya masih merasa kesepian, tapi tidak separah dulu."

Bagi Ida Staberg, rasa senang karena hidup independen dengan cepat memudar. Yang terjadi kemudian, masalah kesehatan mental yang ia alami saat lebih muda justru kembali muncul ke permukaan.

"Saya merasa sendirian dan tidak punya teman dekat," jelasnya. "Rasanya seperti kosong… Sangat mudah untuk mulai berpikiran buruk tentang diri saya, atau pikiran-pikiran yang merusak."

Belum ada lagi survei nasional yang mengukur tingkat kesepian warga sejak tahun 2013. Akan tetapi, penelitian di Badan Statistik Swedia menemukan bahwa 16,8% warga usia 16-24 tahun mengatakan bahwa mereka "merasa kesepian selama dua pekan terakhir".

Hanya warga Swedia di kelompok usia di atas 75 tahun yang memiliki tingkat kesepian lebih parah (17,4%).

Dr Filip Fors Connolly, sosiolog Universitas Umeå di utara Swedia sekaligus penulis buku The Swedish Loneliness, mengatakan bahwa tinggal sendirian "pasti menjadi faktor" munculnya rasa kesepian emosional yang dialami anak muda Swedia.

Tetapi, ia mengingatkan bahwa masalahnya lebih kompleks dari itu. Misalnya, anak muda mungkin lebih cenderung mengutarakan rasa sepi yang mereka alami dibandingkan warga lajang yang berusia lebih matang, terlepas dari situasi sosial sebenarnya yang mereka hadapi, karena mereka "merasa lebih gelisah tentang diri mereka sendiri" pada usia tersebut.

Plus, bisa jadi anak muda Swedia lebih sering mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang rasa sepi karena mereka sudah lebih nyaman dalam menyampaikan kebutuhan dan perasaan mereka dibandingkan generasi-generasi sebelumnya.

Maka itu, Fors Connolly berpendapat bahwa "belum jelas apakah generasi saat ini memang merasa lebih kesepian ketimbang generasi-generasi sebelumnya".

Sementara itu, penelitian lain menunjukkan bahwa kecenderungan untuk tinggal sendirian di Swedia tidak membuat negara tersebut lebih kesepian dibandingkan negara-negara tetangganya di Eropa.

Justru, menurut data Survei Social Eropa terbaru yang dipublikasikan tahun 2014, hanya 5% warga Swedia yang kerap merasa kesepian, lebih rendah dibandingkan persentase rata-rata Eropa pada angka 7%.

Cara hidup bersama yang baru?

Meski belum banyak penelitian dilakukan, kesepian - sebagai masalah sosial dan masalah kesehatan yang mungkin dialami kelompok anak muda Swedia - semakin banyak diperbincangkan.

Surat kabar terbesar di Swedia, Dagens Nyheter, baru-baru ini mengangkat tajuk utama berjudul "Apakah kesepian di kalangan anak muda sebuah bentuk wabah baru?".

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement