Sekolah Favorit
Zonasi bukan tanpa kelemahan. Kebijakan ini tepat jika jumlah sekolah negeri sudah merata dan memadai. Merata maksudnya jumlahnya cukup di setiap kecamatan. Memadai artinya sekolah-sekolah negeri yang ada memenuhi standar minimal nasional pendidikan.
Faktanya sekolah negeri masih sedikit dan mutunya sangat variatif, sehingga antara pendaftar dengan kuota kursi sangat jauh berbeda. Orangtua yang rumahnya jauh dari sekolah merasa dirugikan. Beberapa menitipkan anak ke kartu keluarga saudara mereka. Bahkan banyak juga yang memalsukan surat keterangan tidak mampu. Semuanya demi anak bisa belajar di sekolah negeri pilihan.
Sekolah-sekolah negeri tertentu menjadi favorit dan eksklusif. Hanya diisi oleh siswa yang memiliki nilai akademik yang bagus, dan entah bagaimana caranya rata-rata dari kalangan menengah ke atas. Zonasi jelas ingin menghapuskan label sekolah favorit yang memprioritaskan nilai akademik siswa, meskipun jarak rumahnya jauh.
Karena itu kebijakan berikut perlu dipertimbangkan. Pertama , membenahi sekolah-sekolah negeri agar tidak jauh berbeda mutu dan standarnya, seperti sarana, prasarana, dan tenaga pendidik dan kependidikannya. Misal, kebijakan rotasi guru merupakan keputusan yang tepat. Jika semua sekolah negeri sudah standar, maka semuanya akan favorit atau diminati. Artinya konsentrasi masyarakat tidak hanya tertuju kepada sekolah negeri tertentu saja.
Kedua, mendirikan sekolah negeri baru untuk pemerataan. Ricuh tahunan orangtua seperti saat ini karena jumlah sekolah negeri sangat minim, apalagi yang favorit. Tidak sesuai dengan jumlah peminat atau lulusan. Ketiga , pemerintah membantu dan meningkatkan mutu sekolah swasta agar diminati masyarakat. Contoh, siswa miskin bisa sekolah gratis di sekolah swasta karena seluruh biayanya ditanggung pemerintah daerah.