Menengok Sekolah Bilingual Inggris-Indonesia di Kota Kecil Australia

ABC News, · Selasa 11 Juni 2019 08:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 11 65 2065161 menengok-sekolah-bilingual-inggris-indonesia-di-kota-kecil-australia-VLf129T8Oq.jpg Sekolah Bilingual (Foto: ABC News)

"Pada tahun 2040, anak-anak Kelas 1 kita yang saat ini berusia tujuh tahun, akan bersaing mendapatkan posisi eksekutif. Tanpa kemampuan berbicara bahasa kedua, mereka tidak akan mendapatkan peluang," kata Stuart.

"Kami berharap dukungan pemerintah agar para pelajar dari tingkat TK hingga SMA mendapatkan pendanaan untuk program ini. Karena saat ini hanya dari TK hingga Kelas 6 yang didanai," katanya.

Konjen RI yang berkedudukan di Sydney Heru Hartanto Subolo bersama rombongan disuguhi pertunjukan budaya Indonesia oleh murid-murid sekolah tersebut.

"Saya sangat bangga karena ini tidak hanya akan menjadi pengalaman belajar mereka tetapi juga cara mereka memahami dan terhubung dengan Indonesia," kata Konjen Subolo.

"Terkait dengan bantuan guru, mengirim guru dari Indonesia, kami melakukannya di negara bagian Victoria. Tapi di NSW hal itu memang cukup ketat," ujarnya.

"Kami selalu berupaya mendukung pengajaran dan pembelajaran bahasa semacam ini dalam kapasitas sebagai Konsul Jenderal," tambahnya.

Program bilingual Bahasa Indonesia di sekolah tersebut merupakan gagasan mantan kepala sekolah di sana, Angela Evans.

"Saya senang sekali karena pihak sekolah melanjutkan program yang saya mulai," katanya.

Di tahun-tahun pertama mengembangkan kelas bahasa Indonesia, katanya, dia seringkali harus membawa murid-murid ke Kedubes RI di Canberra.

"Saya sendiri punya empat orang cucu yang semuanya bersekolah di sini," kata Angela.

Pengamat pendidikan dari Melbourne University Dr Anna Dabrowski menjelaskan murid-murid yang bilingual terbukti mampu membuat keputusan kognitif yang lebih memadai dibandingkan murid yang hanya memiliki kemampuan satu bahasa.

"Kemampuan bilingual sangat bagus buat otak seseorang," katanya.

Dr Dabrowski menyebut hambatan terbesar untuk mendapatkan guru bahasa adalah persyaratan sebagai guru terdaftar di masing-masing negara bagian dan teritori. Dia mengatakan sumber daya di komunitas orangtua murid seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mendukung program bilingual di sekolah-sekolah.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini