“Dari pengalaman kegiatan pengabdian masyarakat ini, dapat disimpulkan bahwa pertama, sikap dan karakter yang toleran dapat terbentuk jika terdapat pendidikan pengenalan nilai-nilai keberagaman. Kedua, adalah sesuatu yang mendasar untuk menyampaikan pentingnya nilai keberagaman kepada siswa-siswi sejak usia dini. Ketiga, proses pembelajaran yang menarik dan kontekstual (turun ke lapangan) dirasa lebih efektif karena siswa-siswi tidak saja beroleh pengetahuan secara kognitif namun juga secara afektif dan psikomotorik,” urainya.
Mengenai alasan pihaknya mengangkat tema tersebut untuk program pengabdian masyarakat, karena ramainya kasus yang berkaitan dengan inteloransi meliputi diskriminasi, radikalisme dan kekerasan yang sejatinya bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Selain itu, dalam rangka mendukung pemerintah memenuhi target Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang diadopsi tahun 2015 oleh negara-negara anggota PBB, di mana indikator pencapaian SDGs adalah terciptanya masyarakat adil, damai dan inklusif, anti-diskriminasi dan anti-kekerasan yang didasarkan oleh berbagai latar belakang termasuk agama.
“Kita perlu mengakui bahwa di antara semua aspek keberagaman yang ada di negeri ini, salah satu aspek yang seringkali sulit dibahas bersama adalah mengenai agama. Padahal, agama merupakan bukti kepercayaan seseorang yang nyata terlihat secara sosial. Orang beribadah kepada Tuhan-nya dengan berbagai cara dan berbagai simbol yang melekat tentu adalah sesuatu yang dapat kita lihat. Ketika suatu hal yang nyata tersebut tidak dipahami oleh orang lain yang berbeda agama, maka yang terjadi adalah munculnya kecurigaan, stigma, bahkan secara ekstrem melahirkan sikap-sikap intoleransi yang mengarah pada diskriminasi, radikalisme, serta kekerasan. Tak terhitung berapa banyak nyawa yang menjadi korban di seluruh dunia akibat berbagai tindakan yang lahir dari pemahaman dan sikap-sikap tersebut,”
Sementara itu, selain Anggia Valerisha, anggota tim pengabdian masyarakat lainnya dari Universitas Parahyangan yaitu Elisabeth A. S Dewi, Giandi Kartasasmita dan Putu Agung Nara Indra.
(Risna Nur Rahayu)