JAKARTA – Sebanyak delapan karya fashion terbaik dari delapan mahasiswa Program Studi Kriya Tekstil Institut Teknologi Bandung turut menghiasi pameran 23 Fashion District 2018 di Main Atrium 23Paskal Shopping Center, Bandung 7-9 September 2018.
23 Fashion District diselenggarakan oleh 23Paskal Shopping Centre bekerja sama dengan Indonesia Fashion Chamber (IFC). Pameran ini merupakan ajang mode terbesar di Kota Bandung yang menghadirkan peragaan busana dengan menggandeng 50 desainer ternama. Tema yang diangkat yaitu “Forecast Your Fututre Fashion”.
Dalam masing-masing karyanya, tiap mahasiswa memiliki ciri khas yang semuanya berasal dari Indonesia. Kedelapan mahasiswa dari Program Studi Kriya Angkatan 2014 yang berpartisipasi menjadi desainer adalah Valeria Atiyasanta, Rindrianti Septiana Wahyuningsih, Amatya Talita, Quina Anggia Esmeralda, Arlene Dwiasti Soemardi, Rahmi Nurhafisa, Ni Made Santi Udiyani, dan Elgana.
Tahun ini merupakan tahun pertama Kriya Tekstil ITB berpartisipasi dalam acara 23 Fashion District. Karya yang ditampilkan merupakan karya tugas akhir para mahasiswa yang masih memiliki benang merah dengan tema “Aggrandising Tactile”. Tema tersebut memiliki makna untuk menonjolkan unsur sentuhan tangan pada karya fashion. Hal ini dikarenakan latar belakang dari para desainer ini adalah keilmuan kriya yang secara harfiah bermakna pekerjaan (kerajinan) tangan.

ITB tampil dengan memaksimalkan potensi alam menjadi produk baru dengan teknik-teknik baru. Teknik baru yang dimaksud adalah penggabungan beberapa teknik yang sudah ada seperti Tenun Bali yang dikerjakan dengan Tenun Majalaya, atau pepaduan beragam teknik surface textile menjadi suatu teknik baru yang unik.
Sambutan hangat diberikan oleh penonton yang hadir untuk karya-karya mahasiswa ITB yang ditampilkan. Karya mahasiswa ITB didominasi dengan warna-warna krem yang lembut, dipadu-padankan dengan biru, oren, merah marun dan aksesoris-aksesoris menarik yang menunjang penampilan model.
Salah satu desainer mahasiswa dari ITB, Arlene memainkan transparansi pada tenun yang mendapatkan inspirasi visual dari salah satu tempat wisata yaitu Pantai Pandawa di Bali.
“Aku juga bekerja sama dengan pekerja tenun tradisional dari Bali dan Majalaya.”ujarnya

Selain Bali, salah satu tebing di NTT bernama Tebing Kelebba Maja juga menjadi inspirasi Amatya Talita. Inspirasi tersebut dieksekusi dengan teknik sablon manual menggunakan material utama pasta binder puff.
Budaya Indonesia juga ada dalam bentuk cerita wayang. Dua mahasiswa Kriya yaitu Elgana dan Santi menjadikan kisah wayang sebagai inspirasi mereka dalam membuat karya.
“Karena aku berasal dari Bali jadi Wayang Kamasan merupakan inspirasi produk yang aku buat dengan dengan efek layering” ujar Santi
Sedangkan Elgana yang mengaku suka dengan cerita-cerita fantasi kali ini mengangkat tokoh Sinta dari cerita Ramayana. Elgana menggunakan teknik reka latar untuk membuat suatu kostum panggung yang megah.