JAKARTA - Daun beluntas biasa dimanfaatkan sebagai bahan obat herbal, salah satunya jamu. Sejak dulu, masyarakat biasa memanfaatkan daun beluntas yang tinggi khasiat sebagai solusi kesehatan dan kecantikan.
Namun, berbeda dengan biasanya, sekelompok mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), yaitu Latiful Akbar (Departemen Biologi), Andriyani (Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan), dan Auliya Fikri (Departemen Biologi) mencoba memanfaatkan daun beluntas sebagai bahan baku utama parfum.
Dilansir dari laman IPB, Sabtu (20/1/2018), inovasi yang diberi judul ‘Pluchaefume: Natural perfume of Beluntas’ ini telah memenangkan juara pertama pada ajang Asian Pacific Agriculture Student Summit dan Undergraduate Project Competition di Taiwan.
"Pluchaefume adalah parfum alami yang berasal dari daun beluntas. Saya terinspirasi oleh ibu saya saat berada di Pati, yang biasa membuat makanan dari daun beluntas yang dicampur tepung kemudian digoreng. Dosen saya juga menggunakan beluntas sebagai pewangi daging itik. Melihat potensi ini, kami ingin menggunakan daun beluntas menjadi sesuatu yang lebih bernilai,” ujar Andriyani mewakili tim.
Lanjut dia, daun beluntas juga mempunyai manfaat lain, yaitu menangkal radikal bebas. Selain itu, pemanfaatan daun beluntas sebagai parfum sejalan dengan tren produk pasaran yang sedang kembali ke alam.
"Titik fokus kami bukan hanya untuk menjual parfum, tetapi juga mengharapkan nilai jual lebih dari daun beluntas. Kami ingin menambah nilai ekonominya. Misalnya, ke depan, pengembangan parfum ini akan menciptakan permintaan. Beluntas mudah dibudidayakan, sehingga masyarakat bisa menanam beluntas dan dedaunya bisa dijual,” imbuhnya.
Ke depan, mereka ingin mengembangkan penelitian ini dan memanfaatkan media sosial dalam pengenalannya kepada masyarakat.
(Susi Fatimah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik