“Selama ini, guru dimanjakan berbagai macam fasilitas dan tidak bisa membuat soal. Ini tidak sesuai dengan tugas pokok guru yang bertugas mengevaluasi. Oleh karena itu, lewat USBN, guru mengambil kembali peranan yang hilang,” imbuhnya.
Tidak hanya guru, capaian siswa selama belajar juga akan dilihat lewat keterampilan mereka dalam menajawab pertanyaan esai. Menurut Mendikbud, esai sangat efektif untuk menghindarkan siswa dari sikap spekulatif.
“Kita kan ingin menaikkan standar kompetensi siswa kita ke 4C, yaitu critical thinking, collaboration, communication skill, dan creativity and innovation. Tidak mungkin jika siswa hanya dipatok kemampuannya lewat soal-soal multiple choice. Karena itu, mereka harus mulai diarahkan nalar kritisnya,” tegasnya.
Mengenai teknis penyelenggaraan, Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Bambang Suryadi menyerahkan sepenuhnya kepada satuan pendidikan mulai dari bobot nilai, media pengisian, sampai dengan waktu pelaksanaan.
“Sekolah yang menentukan pembobotan nilai PG dan esai. Waktu pelaksanaan diserahkan kepada satuan pendidikan, boleh sebelum atau setelah ujian nasional (UN). Dengan catatan, guru harus menuntaskan seluruh kurikulum yang ada,” tutupnya.
(Susi Fatimah)