Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Hidup Willem Iskander, Pionir Pendidikan dari Sumatera Utara

Agregasi Sindonews.com , Jurnalis-Senin, 30 Oktober 2017 |14:54 WIB
Kisah Hidup Willem Iskander, Pionir Pendidikan dari Sumatera Utara
Willem Iskandar. (Foto: Ist/Sindonews)
A
A
A

Tak hanya Ichwan, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Dr Daoed Joesoef juga sangat mengagumi Willem Iskander. Daoed Joesoef menunjukkan perhatiannya terhadap Willem Iskander sebagaimana ia pernah menulis tiga artikel tentang Willem Iskander di Harian Sinar Harapan, yaitu: (1)"Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk (I): Ditemukan Sebuah Buku Tua" (14 Mei 1986), (2) "Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk (II): O, Mandailing Godang" (15 Mei 1986), dan "Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk (III Habis): Meninggalnya Orang Jujur" (16 Mei 1986).

Selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef telah mengunjungi Tanobato di Mandailing pada tahun 1981 untuk melihat lokasi Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzers yang didirikan Willem Iskander pada tahun 1862. Dia juga ingin melihat bekas pertapakan sekolah guru itu yang kemudian dibangun SMA Negeri Willem Iskander itu pada tahun 1983.

Willem Iskander menerima piagam hadiah seni ad postuum dari pemerintah pusat melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr Daoed Joesoef, pada 15 Agustus 1978. Teks Piagam Hadiah Seni itu menyebutkan bahwa pemberian piagam hadiah seni ini sebagai penghargaan Pemerintah atas jasanya terhadap Negara sebagai sastrawan Mandailing, Sumatera Utara.

Pramoedya Ananta Toer juga memberi catatan kaki pada bukunya yang berjudul “Panggil Aku Kartini Saja”. Pramoedya menjajarkan Willem Iskander dengan Raden Saleh sebagai tokoh hebat Indonesia akhir abad ke-19.

Willem Iskander diabadikan sebagai nama jalan di Kota Padangsidimpuan, Mandailing Natal, Medan dan beberapa kota lainnya di Sumatera Utara. Selain itu namanya dijadikan nama sebuah SMK di Mandailing Natal, dan nama Sanggar Seni di Tebet, Jakarta Selatan.

Sosok Willem Iskander sangat berarti bagi kemajuan pendidikan di Mandailing dan Sumatera Utara. Sejatinya, sosok pelopor pendidikan ini perlu dimunculkan agar dikenal masyarakat luas, terutama generasi muda Indonesia.

Budayawan Basyral Hamidy Harahap, menilai Willem Iskander adalah seorang guru yang terlempar jauh ke masa depannya.

Karyanya tak pernah usang, karena ia berbicara tentang perjalanan hidup lahir batin manusia yang universal (Harahap, 1996:185-227). Basyral Hamidy Harahap sendiri telah menulis tidak kurang dari 25 tulisan berupa makalah-makalah, ceramah dan tulisan yang dimuat berbagai media masa sejak 1975, untuk memberikan pencerahan terhadap apa dan siapa Willem Iskander.

(Qur'anul Hidayat)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement