Belum selesainya penelitian tersebut, aku Hera, bukan soal biaya, tetapi kendala utama dalam penelitian yang digelutinya selama puluhan tahun itu adalah sumber daya manusia. "Sains itu butuh passion. SDM dalam bidang ini susah. Lembaga kami harus mencari sendiri SDM itu sesuai kebutuhan. Karena ya itu, sains itu harus ada passion," ungkap alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) dan Monash University.
Bukan itu saja perjuangan yang harus dilalui Herawati ketika melakukan penelitian ini ke pulau-pulau di Indonesia hingga ke Madagaskar. Ia mengingat, perjuangan terbesarnya untuk melakoni penelitian ini adalah medan. Sebuah medan yang sulit, kadang tak ada jalan, kadang harus mengikuti adat istiadat setempat demi memperoleh penelitian.
"Tantangannya adalah lapangan, medannya. Kita mengalami suatu proses pendekatan hingga perizinan. Kita juga harus menjadi suatu antropolog, sehingga sebagai genetisis kita bisa menentukan untuk ke desa-desa baru, biasanya kita ambil desa-desa adat," terangnya.
Di sanalah perjuangan Herawati dan tim dimulai. Ia harus mengikuti budaya lokal mulai dari upacara adat, berbicara dengan tetua adat, dan mengikuti adat setempat hingga izin penelitian diberikan. "Kita pernah disiapkan upacara-upacara dengan segala makanan, doa-doa dan makan sirih pinang. Buah pinang itu bikin kita agak mabuk begitu," kisahnya.
Namun, biar medan dan tantangannya sulit tetap ia lakoni. Hingga ia menemukan sebuah fakta baru bila ada hubungan antara Madagaskar dengan Indonesia.