Strategi lainnya, ungkap Harjanto, yakni dengan mendengarkan aspirasi dari dosen, orangtua mahasiswa, dan sekolah SMA atau sederajat yang siswanya melanjutkan studi di Binus. Menurut dia, dosen harus mendapatkan kehidupan yang layak selama mereka pantas, terlebih sudah mampu menyandang master atau doktor.
"Harapan orangtua dulu dan sekarang tentu berbeda, karena zaman sekarang para orangtua sebagian besar lulusan perguruan tinggi, tentu ingin anaknya lebih baik. Dosen juga harus diberi hidup yang layak, tetapi itu juga harus dibayar dengan output mahasiswa yang diajarnya," jelasnya.
Rektor yang tahun ini menginjak usia 52 tahun itu menambahkan, saat ini banyak masyarakat salah kaprah menganggap jika PTS identik dengan biaya selangit. Dia mengaku, memang biaya pendidikan semakin mahal, seperti untuk membayar listrik, air, komputer, dan lain sebagainya. Namun, bukan berarti perguruan tinggi negeri (PTN) tidak mahal. Bedanya, swasta berdiri sendiri, sedangkan PTN sebagian ditanggung negara.
"Di PTN proses menjadikan seorang mahasiswa sampai sarjana itu sama saja butuh biaya yang besar, dan seriap tahun naik terus. Tetapi karena dibantu negara jadi murah bahkan gratis. Kadang kalau tidak dijelaskan detail seakan-akan swasta mahal, negeri murah. Oleh karena itu siapa pun yang sedang berkuliah harus sungguh-sungguh, setelah lulus jangan korupsi. Yang di PTN ingat ada uang rakyat di situ, sedangkan yang PTS juga harus berpikir semua pengorbanan orangtua dalam membiayai kuliah sampai lulus," tukas ayah dua anak tersebut.
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik