Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Obat Diare Kelinci

Antara , Jurnalis-Rabu, 13 Januari 2016 |22:42 WIB
Mahasiswa Universitas Brawijaya Ciptakan Obat Diare Kelinci
Ilustrasi (Reuters)
A
A
A

MALANG - Tiga mahasiswa lintas fakultas Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, menciptakan obat diare ekonomis untuk kelinci berbahan baku daun belimbing wuluh (Averrhoa Blimbi).

Ketiga mahasiswa pencipta obat diare bagi kelinci tersebut adalah Rhezaldian Eka Darmawan (Fakultas Teknik), Galuh Dianita Fitri (Fapet), dan Anas Nur Hidayah (FPIK).

"Kami membuat antibiotik untuk kelinci karena kelinci yang paling sering diserang penyakit diare apalagi di Malang ketika musim hujan," kata salah seorang mahasiswa pencipta obat diare untuk kelinci tersebut, Rhezaldian Eka Darmawan, di Malang, Rabu (13/1/2016).

Umumnya, kata Rhezaldian, peternak kelinci terbiasa memberikan antibiotik sapi ketika ternak mereka terkena diare, namun antibotik sapi ini bila diberikan untuk kelinci, dosisnya terlalu besar. Namun, karena kurangnya pengetahuan hal ini tetap mereka lakukan.

Ia mengatakan, diare disebabkan oleh bakteri Escherichia coli (E.coli) dan beberapa bakteri gram negatif lainnya. Dari referensi yang ia baca, obat antidiare yang tepat adalah yang terbuat dari senyawa tanin. "Akhirnya kami buat dari daun belimbing wuluh yang kaya senyawa tanin," kata mahasiswa Jurusan Teknik Kimia itu.

Penyebab penyakit diare pada kelinci ini, lanjut Rhezaldian, sama penyebabnya dengan diare pada manusia. Namun, ketika terkena diare, manusia mayoritas menggunakan obat yang terbuat dari ekstrak daun jambu biji.

Dengan kata lain, daun jambu biji dengan daun belimbing wuluh memiliki potensi yang sama untuk mengobati penyakit diare. Hanya saja, daun jambu biji telah banyak dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan sebagai pil antidiare manusia.

Di lain sisi, daun belimbing wuluh masih belum banyak dimanfaatkan oleh manusia. Hal inilah yang melatarbelakangi tim untuk membuat obat antibiotik diare kelinci dari daun belimbing wuluh. Obat ini dinamakan Rabbit Herbal Antibiotic (RABALTIC).

"Dari beberapa penelitian sebelumnya disebutkan 16 gram ekstrak tanin dan 100 ml akuades adalah yang paling optimal untuk menghambat pertumbuhan bakteri E. coli," ujar alumni SMA Brawijaya Smart School itu.

Ia menjelaskan, penggunaannya cukup dicampurkan ke dalam minuman kelinci dengan dosis 2,5 ml. RABALTIC tersebut telah diuji coba di peternakan kelinci rekanan dengan hasil yang sangat memuaskan. "Kelinci kalau sudah kena diare bisa menyebar dan menular ke kelinci lainnya, sehingga dapat menyebabkan dehidrasi dan kematian," ucapnya.

Menurut dia, RABALTIC dijual dengan harga Rp19.000,-/100 ml dan tidak menutup kemungkinan harga produk tersebut bisa lebih murah lagi bila diproduksi secara massal.

"Kami berharap obat ini bisa digunakan untuk manusia, namun bila digunakan untuk manusia perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengingat organ tubuh pada manusia lebih kompleks," ujarnya.

Penelitian yang menghasilkan obat diare bagi kelinci tersebut berawal dari keluhan peternak kelinci di daerah Karangploso, Kabupaten Malang.

(Muhammad Saifullah )

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement