4. Hasrat untuk berbagi
Milikilah keinginan untuk selalu berbagi ilmu pengetahuan, pengalaman, kepada siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Sebab semakin banyak kita berbagi, maka semakin banyak pula yang akan kita terima. Terlebih lagi ilmu. Ia akan bertambah ketika kita bagikan, dan akan berkurang bila kita simpan sendirian.
Lalu, pertimbangkanlah apa yang akan kita bagikan dengan berapa lama kita akan tinggal dan tingkat kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar. Pengetahuan praktis dan terapan tentunya akan sangat bermanfaat daripada teknologi canggih yang belum tentu aplikatif. Bagikan dan tuliskan semua itu melalui media sosial dan media cetak. Syukur-syukur kalau kita piawai menulis buku. Melalui buku, maka kita telah menorehkan prasasti kehidupan dan mengukir sejarah.
5. Mulailah dari hal-hal yang sederhana
Ajarilah anak-anak dan warga bagaimana mengenali sains dan ilmu pengetahuan dengan cara yang paling sederhana, asyik, dan menyenangkan. Buatlah permainan yang edukatif. Jadi mereka dapat bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain. Lalu buatlah mereka terlibat.
Inilah pendekatan partisipatoris. Learning by doing. Belajar sambil melakukan. Sehingga mereka tidak akan lupa tentang hal-hal yang kita ajarkan. Contohnya: senam otak (brain gym), berhitung cepat (mathemagics), medismart (medis praktis), mengenali tanaman obat di lingkungan sekitar kita, belajar bahasa Inggris dari alam sekitar, menulis dan membaca puisi, menulis surat untuk presiden Republik Indonesia, membuat pohon impian, belajar baris-berbaris, dsb. Bagaimanapun, kesederhanaan adalah cahaya keindahan.