"Dalam pembuatannya, kami meminta bantuan dari pihak luar karena belum tahu cara membuatnya. Kami juga membaca jurnal dan dibimbing oleh dosen. Untuk kesulitannya, yaitu waktu," tuturnya.
Meski belum sempurna, Nico berharap ke depan inovasi itu bisa dikomersialisasikan. Saat ini, tim yang dibimbing oleh Ihsan Iswaldi dan Odi Akhyarsi tersebut tengah melakukan penyempurnaan terhadap prototype-nya.
"Sejak awal pembuatan, kami satu tim sudah menghabiskan biaya Rp400 ribu untuk membeli bahan. Prototype kami sendiri berbeda dengan edible paper sebelumnya, karena teksturnya lebih seperti kertas HVS," pungkas cowok asal Pontianak itu. (ira)
(Rifa Nadia Nurfuadah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik