Share

Lulus SMP, Pilih Nikah dan Jadi Petani

Demon Fajri, Okezone · Kamis 20 Agustus 2015 08:06 WIB
https: img.okezone.com content 2015 08 20 65 1199240 lulus-smp-pilih-nikah-dan-jadi-petani-Rziq12DTbX.jpg Suasana kerja para buruh tani di Desa Sumber Urip, Bengkulu. (Foto: Demon F/Okezone)

BENGKULU - Hiruk pikuk perayaan HUT ke-70 RI belum sepenuhnya senyap. Namun, gaung kemerdekaan pendidikan di Desa Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, sudah lama tak terdengar.

Buktinya, masih banyak pendidikan anak usia sekolah terhenti di bangku SMP. Mereka memilih menikah atau menjadi petani ketimbang harus menyandang tas dan mengenakan seragam putih abu-abu.

Alasan utama, kata Ketua Kelompok Harapan Perempuan, Desa Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, Suhartini, adalah keterbatasan ekonomi. Umumnya, orangtua mereka adalah buruh tani dengan penghasilan sangat minim.

"Buruh perempuan hanya dibayar Rp50 ribu, sedangkan laki-laki diberi upah Rp 70 ribu," kata Suhartini kepada Okezone belum lama ini.

Sebenarnya, kata Suhartini, fasilitas sekolah di desanya cukup memadai. Sudah tersedia sekolah jenjang SD hingga SMA di sana. Namun, minimnya tingkat kesejahteraan warga mendorong sekira 20 persen dari total anak usia sekolah di desa tersebut banting haluan. Bagaimana tidak, mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sulit, apalagi memenuhi biaya sekolah. Pengeluaran sekolah bukan hanya uang SPP, tetapi juga ongkos transportasi dan keperluan lain seperti buku dan seragam.

"Apalagi mereka tidak setiap hari melakoni pekerjaan sebagai buruh . Sebab, pekerjaan itu menunggu masa panen tanam sayur-mayur. Makanya anak buruh tani memilih berhenti sekolah. Jika laki-laki, umumnya menjadi petani juga, sedangkan anak perempuan menikah demi meringankan beban orangtua," imbuh Suhartini.

Rendahnya tingkat kesejahteraan bukan faktor satu-satunya penyebab anak putus sekolah di Desa Sumber Urip. Salah satu anak putus sekolah, Puput, mengaku memilih berhenti sekolah lantaran sudah tidak mampu lagi menerima pelajaran di sekolah.

"Orangtua saya buruh tani. Penghasilannya tidak menetap, makanya saya memilih untuk berhenti sekolah dan menjadi buruh tani guna meringankan beban keluarga," aku Puput.

Kondisi lebih baik bisa ditemukan di kecamatan lainnya. Sebagian besar anak usia sekolah di Desa Sebakul, Kelurahan Sukarami, Kecamatan Selebar Kota Bengkulu masih bisa mengenyam pendidikan meski harus berkutat dengan tumpukan sampah. Kegiatan yang dilakukan usai pulang sekolah itu mereka jalani demi mencari penghasilan tambahan yang dapat membiayai pendidikan mereka.

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini