JAKARTA - Ada yang bilang, merajut cinta di masa kuliah itu menyenangkan. Namun tidak semua hal menyenangkan itu membuat kamu bisa langsung memutuskan untuk segera menjalin kasih, apalagi bila kamu masih berstatus mahasiswa.
Belum lagi faktor usia yang membuat kita kadang tidak bisa mengontrol emosi dan ego. Selain itu, masa -masa muda juga merupakan masa pencarian jati diri. Ditambah lagi, bila hubungan itu harus dijalani melalui long distance relationship (LDR)
Menurut Ekalya Herminasari, mahasiswi Veteran Jakarta berpendapat bahwa pacaran tidak begitu penting di saat kuliah, karena tujuannya pun sudah berbeda.
"Kalau menurut aku, tidak begitu penting. Karena saat kuliah kan tujuan utamanya mencari ilmu, sedangkan pacaran tujuannya mencari pasangan. Jadi, tujuannya berbeda," ungkap mahasiswi jurusan Ilmu Hubungan Internasional (HI) itu, saat dihubungi Okezone, belum lama ini.
Sebagai mahasiswi yang masih bergantung dengan orangtua, hendaknya kita bisa membalas lebih dulu harapan mereka. Karena yang orangtua inginkan adalah melihat anak mereka sukses di masa depan.
Pendapat serupa diungkapkan oleh Fransisca Selviana Kaesnube, mahasiswi Polimedia, Jakarta, yang menyatakan bahwa lebih memilih untuk menjalani kuliah ketimbang merajut cinta.
"Kalau aku lebih pilih kuliah, daripada nanti berantakan mending fokus kuliah dulu," imbuhnya.
Tapi tidak selamanya menjalin kedekatan dengan lawan jenis itu menimbulkan sisi negatif, adapula hal-hal positif yang bisa kita pelajari.
"Pacaran itu penting, karena dengan berpacaran kita bisa belajar untuk menjadi lebih dewasa di mana kita dapat saling memahami dan mengerti," kata Frensen, mahasiswa Jurusan Psikologi, Universitas Gunadarma, Depok itu.
Menurutnya, berpacaran membuat kita bisa memiliki motivasi yang lebih besar, bisa bersikap terbuka dalam berbagi banyak hal, saling memberi dukungan terutama dalam kegiatan perkuliahan. Kita bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa dan belajar untuk memahami karakter orang lain.
Eka juga mengungkapkan bahwa ada sisi positif dari berpacaran, yakni melatih kepekaan perasaan. Mahasiswa biasanya cenderung stres dengan tugas-tugas kuliahnya. Dengan adanya sosok penyemangat baru, kita bisa memiliki teman diskusi dan juga sebagai penghibur.
Seperti pengalaman Nur Amelia, mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta, yang menjadikan hubungannya dengan sang kekasih sebagai pemicu agar nilai-nilai akademiknya menjadi lebih baik.
"Pernah waktu itu IPK aku lebih tinggi, terus aku bilang ke dia (pacarnya), kalau nilai kamu bisa lebih tinggi, aku traktir. Alhasil IPK dia pun naik, dan aku traktir dia makan," ungkapnya. (fsl)
(Rani Hardjanti)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik