Share

Kurikulum Pendidikan CBSA hingga 2013

Rifa Nadia Nurfuadah, Okezone · Senin 15 Desember 2014 09:05 WIB
https: img.okezone.com content 2014 12 14 65 1079116 kurikulum-pendidikan-cbsa-hingga-2013-wec3DMWJd4.jpg Sejak 1984 hingga 2013, siswa menjadi fokus dalam kegiatan pembelajaran. Peran guru pun lebih dikembangkan sebagai fasilitator. (Foto: dok. Okezone)

JAKARTA - Sejak merdeka pada 1945, Indonesia telah menggunakan 10 kurikulum pendidikan nasional. Perubahan kurikulum ini dipengaruhi perubahan zaman serta berbagai faktor internal dan eksternal.

Berikut penjelasan lima kurikulum yang dipakai pada periode 1984-2013 seperti dikutip dari laman Ditjen Dikti, Kemendikbud, Senin (15/12/2014):

6. Kurikulum 1984

Kurikulum ini dikenal dengan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Dengan pendekatan keterampilan proses (skill approach), guru menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum memberikan latihan kepada peserta didik.

CBSA sendiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Mereka mengamati sesuatu,mengelompokkan, mendiskusikan kemudian melaporkan hasil pengamatan tersebut.

Orientasi Kurikulum 1984 adalah tujuan instruksional. Tujuan tersebut didasari pandangan bahwa sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif memberikan pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas.

7. Kurikulum 1994

Penyempurna Kurikulum 1984 ini mengubah sistem pembagian waktu pelajaran, dari semester ke caturwulan. Dengan begitu, siswa diharapkan dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Penekanan pengajaran adalah pada pemahaman konsep serta keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.

Kurikulum 1994 bersifat populis. Artinya, satu kurikulum diberlakukan secara merata untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial.

8. Kurikulum 2004

Kurikulum 2004 lebih dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Titik beratnya adalah pengembangan kemampuan siswa untuk melakukan tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan.

Karena berorientasi pada pencapaian kompetensi individu siswa itulah, maka penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode bervariasi. Guru bukan satu-satunya sumber belajar. Siswa dapat mencari sumber belajar lain yang memenuhi unsur edukatif. Proses penilaian menekanakan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

9. Kurikulum 2006 (KTSP)

Setelah KBK, lahirlah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum yang diluncurkan pada 2006 ini memberikan otoritas kepada guru dalam mengembangkan kurikulum secara bebas dengan memperhatikan karakteristik siswa dan lingkungan di sekolahnya.

Dalam mengembangkan kurikulum, guru mengacu pada kerangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL) serta standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD). Ketiga parameter tersebut sudah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayan - red) untuk setiap mata pelajaran pada tiap jenjang pendidikan.

10. Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 atau Pendidikan Berbasis Karakter adalah dicetuskan pada masa kepemimpinan Mendikbud M Nuh untuk menggantikan KTSP. Ia menekankan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter. Pada kurikulum 2013, siswa dituntut untuk memahami materi, aktif dalam berdiskusi dan presentasi serta memiliki sopan santun disiplin yang tinggi.

Pada kurikulum 2013, siswa harus mengikuti mata pelajaran wajib dan bisa menentukan sendiri mata pelajaran pilihan mereka. Kedua kelompok mata pelajaran tersebut (wajib dan pilihan) terutama dikembangkan dalam struktur kurikulum pendidikan menengah yaitu di SMA dan SMK.

Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan tematik integratif untuk jenjang sekolah dasar (SD). Pendekatan ini mengintegrasikan seluruh mata pelajaran dalam bentuk tema-tema. Artinya materi ajar tidak disampaikan berdasarkan mata pelajaran tertentu.

Kontroversi seputar Kurikulum 2013 muncul karena penerapannya dinilai tergesa-gesa dan tanpa evaluasi mendalam terhadap KTSP. Beberapa hal yang menjadi sorotan pokok pelaksanaan kurikulum 2013 adalah kesiapan guru, kesiapan fasilitas sekolah dan kesiapan logistik seperti buku teks.

Awal Desember, Mendikbud Anies Baswedan pun memutuskan pembatasan penerapan Kurikulum 2013. Sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013 selama tiga semester dapat melanjutkan pemakaiannya. Sedangkan sekolah yang baru memakai Kurikulum 2013 selama satu semester diimbau untuk kembali ke KTSP. (tamat)

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini