Kasus ini menjadi perhatian luas karena dinilai dapat berdampak pada reputasi akademik Indonesia di mata dunia. Sejumlah peneliti mengkhawatirkan kepercayaan terhadap ilmuwan Indonesia ikut terdampak akibat dugaan tindakan tersebut.
Selain itu, kasus ini juga memicu diskusi soal integritas akademik, penggunaan AI dalam dunia penelitian, serta lemahnya proses verifikasi dalam seleksi konferensi ilmiah internasional. Meski telah viral di media sosial, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari penyelenggara ISPPD maupun otoritas terkait di Denmark terkait dugaan tersebut.
“Yang ngelulusin travel grantnya juga patut dipertanyakan sih, masa iya ga ngeh. Biasanya peneliti/dosen dapatin grant sedemikian sulitnya kok bisa2nya mereka yg ajaib penelitiannya bisa dapat,” tulis netizen.
“Pintas akademik bisa dikejar, tapi pendidikan karakter tidak bisa diulang. Buat para parents yang anaknya belum bisa calistung ga usah khawatir, khawatirlah kalau anak-anak kita tidak bisa jujur, sopan, dan punya empati,” timpal netizen lainnya.
(Djanti Virantika)