“Anda membuat hujan buatan di daerah penghujan, di saat musim hujan, hasilnya pasti hujan. Mana yang alami, mana yang buatan bisa dibedakan? Makanya negara-negara, setidaknya di Asia Tenggara, mereka tahu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Saya sebenarnya berharap Jakarta mengkaji kembali,” tambahnya.
Selain itu, Eddy menegaskan bahwa modifikasi cuaca bukan teknologi yang dapat menjamin pengendalian hujan secara presisi. Bahkan kecerdasan buatan (AI) sekalipun, kata dia, tidak mampu memastikan di mana air hujan akan jatuh setelah awan disemai.
“Siapa yang bisa menjamin? Kalau awan yang saya semai itu jatuh di Jatiluhur? Teknologi apa? AI mana yang bisa menjamin? Tidak ada kepastian apa pun. Oleh karena itu, saran saya, coba dikaji ulang. Deep analysis, deep science. Jangan sampai garam yang kita tabur bukannya air,” tegas Eddy.
Eddy juga menyoroti anomali penggunaan modifikasi cuaca di Indonesia yang seharusnya dilakukan pada momen yang tepat. Bukan hanya saat hujan ekstrem, tetapi juga pada musim kemarau ketika banyak wilayah mengalami kekeringan akibat surutnya air waduk atau danau.
“Kita ini musim basah air di mana-mana, musim kemarau kering di mana-mana. Jadi maju kena, mundur kena. Harusnya saat kemarau panjang ada hujan buatan karena waduk butuh air. Yang tidak lain adalah awan-awan besar itu kita ‘karbit’ supaya jangan jatuh di darat, tapi di laut,” tandasnya.
(Niko Prayoga)
(Rani Hardjanti)