NUSA TENGGARA TIMUR - Akademisi Universitas Indonesia (UI) mengajak berkenalan dengan warga Komodo dan Taman Nasional Komodo menyelenggarakan Komodo Culture Festival 2023. Di sana ada suku adat Ata Modo yang hidup berdampingan untuk melestarikan hewan komodo.
Melalui Direktorat Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPM UI) berkolaborasi dengan Warga Komodo dan Taman Nasional Komodo menyelenggarakan Komodo Culture Festival 2023 yang berlangsung selama tiga hari, yaitu 12-14 Oktober 2023, di Desa Komodo, Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Para dosen UI berkolaborasi dengan Warga Komodo pembangunan kepariwisataan di Desa Komodo. Untuk mempromosikan desa pariwisata itu, digelarlah “Komodo Culture Festival” sebagai upaya UI untuk melestarikan tradisi di Ata Modo atau ‘orang Pulau Komodo’ agar generasi mendatang dapat memahami dan menghargai asal-usul mereka dan memiliki kebanggaan akan budaya dan komunitasnya. Dalam melaksanakan pendampingan program Komodo Culture Festival, UI juga berusaha melakukan penguatan komunitas masyarakat di Desa Komodo. UI berharap melalui Komodo Culture Festival, Desa Komodo dapat menjadi destinasi wisata budaya prioritas di Kawasan Taman Nasional Komodo.
BACA JUGA:
“Kami berupaya melestarikan budaya Orang Pulau Komodo agar dapat mempertahankan akar sejarah dan pewarisan ilmu pengetahuan bagi generasi muda. Selain itu, kami menangkap kekhawatiran dari Kepala Balai Taman Nasional Komodo juga mengenai kemandirian masyarakat di masa depan. Jika masyarakat secara mandiri telah mampu mengemas kegiatan untuk setiap tahunnya dengan pendanaan yang ada, baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun partisipasi mitra desa, sehingga Komodo Culture Festival akan dapat terus terselenggara, dan proses transmisi kebudayaan dapat terus berjalan,” kata Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI Widhyasmaramurti, dalam keterangan resmi kepada Okezone, Rabu (18/10/2023).
Ketua Suku Adat Ata Modo, Magu, menyampaikan bahwa kegiatan Komodo Culture Festival merupakan upaya dari masyarakat adat Suku Ata Modo untuk mewariskan ilmu pengetahuan, tradisi, dan budaya yang mereka miliki dan percayai selama ini. Suku Modo percaya bahwa mereka dan hewan komodo dapat hidup saling selaras dan harmonis dengan alam karena mereka bersaudara. Kepercayaan ini tanpa disadari sudah terinternalisasi dalam kehidupan warga Pulau Komodo yang dikenal sebagai Ata Modo atau ‘orang Pulau Komodo’.
BACA JUGA:
Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, S.Hut. M.Sc. atau yang biasa disapa Hengki berharap festival ini dapat terus berjalan di bawah kemandirian masyarakat kendati pendampingan UI telah usai dilakukan. “Kami berharap, program Komodo Culture Festival dapat menjadi ajang tahunan untuk merawat budaya di Pulau Komodo serta Desa Komodo dapat menjadi destinasi wisata prioritas di Taman Nasional Komodo,” kata Hengki.
Kepala Desa Komodo, H. Aksan, mengapresiasi dukungan pihak UI yang berkenan mendampingi warga Komodo untuk menyelenggarakan kegiatan Festival Budaya Komodo. Bukti dukungan pemerintah desa Komodo dan warga Komodo diwujudkan dengan adanya dukungan pembiayaan dari pemerintah desa dan keswadayaan masyarakat dengan mengumpulkan pendanaan dari warga untuk menyukseskan kegiatan Komodo Culture Festival.
Festival budaya ini secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Agung Waluyo, S.Kp., M.Sc., (Direktur DPPM UI), Kepala Desa Komodo, H. Aksan, dan Ketua Adat Suku Modo.
Rangkaian Komodo Culture Festival terdiri atas pertunjukan tarian, musik dan permainan tradisional dari warga setempat. Sebagai puncak upacara, digelar “Makan Berbagi” sebagai bagian dari upacara adat yang muncul dari Legenda Desa Komodo. Komodo Culture Festival juga dihadiri oleh Hendrikus Rani Siga, S.Hut. M.Sc. (Kepala Balai Taman Nasional Komodo), Idwan Suhardi, Ph.D (Dosen UI) dan Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono (Guru Besar FISIP UI) yang memberikan dukungan terhadap proses pelestarian Pengabdian pada Masyarakat di Desa Komodo ini. Pagelaran tersebut juga dihadiri sedikitnya 200 orang turis baik lokal maupun mancanegara diantaranya dari Perancis, Jerman, dan Thailand.
Komodo Culture Festival merupakan program besutan para Dosen UI yaitu Widhyasmaramurti, M.A, Novika Stri Wrihatni, M.Hum. dan Murni Widyastuti, M.Hum., sebagai bagian pengabdian pada masyarakat (pengmas). Para dosen UI berkolaborasi dengan Warga Komodo pembangunan kepariwisataan di Desa Komodo. Untuk mempromosikan desa pariwisata itu, digelarlah “Komodo Culture Festival” sebagai upaya UI untuk melestarikan tradisi di Ata Modo atau ‘orang Pulau Komodo’ agar generasi mendatang dapat memahami dan menghargai asal-usul mereka dan memiliki kebanggaan akan budaya dan komunitasnya. Dalam melaksanakan pendampingan program Komodo Culture Festival, UI juga berusaha melakukan penguatan komunitas masyarakat di Desa Komodo. UI berharap melalui Komodo Culture Festival, Desa Komodo dapat menjadi destinasi wisata budaya prioritas di Kawasan Taman Nasional Komodo.
““Kami berupaya melestarikan budaya Orang Pulau Komodo agar dapat mempertahankan akar sejarah dan pewarisan ilmu pengetahuan bagi generasi muda. Selain itu, kami menangkap kekhawatiran dari Kepala Balai Taman Nasional Komodo juga mengenai kemandirian masyarakat di masa depan. Jika masyarakat secara mandiri telah mampu mengemas kegiatan untuk setiap tahunnya dengan pendanaan yang ada, baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun partisipasi mitra desa, sehingga Komodo Culture Festival akan dapat terus terselenggara, dan proses transmisi kebudayaan dapat terus berjalan,” kata Widhyasmaramurti.