3. Kusir dan Kuda Penarik Delman
Jauh sebelum menjadi seorang kusir, ketika usianya masih sangat muda, seorang laki-laki menemukan seekor kuda tengah kebingungan di dekat jalan setapak menuju desanya. Kuda jantan terlihat gagah dan memiliki rambut lebat, warna bulunya putih bersih, menandakan ia sepertinya bukan kuda biasa.
Kuda putih itu hanya berputar-putar dan sesekali mengangkat kaki depannya ke atas. Pemuda yang melihat itu segera mendekati kuda putih yang gagah itu.
“Kuda gagah… apa kau merasa kehilangan sesuatu?” Tanya sang Pemuda. Kuda tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Ia hanya meringkik seraya mengangkat kaki.
Berusaha memberitahu sesuatu, namun orang yang berdiri di hadapannya tidak mengerti sama sekali. Akhirnya ia membawa kuda putih itu pulang, memberinya makan rumput yang segar dan minum, lalu memandikannya. Ia menunggu pemilik kuda itu mencarinya. Namun, setelah berbulan-bulan, tetap tidak ada satu orang pun yang mencari kuda putih yang gagah itu.
Sang Pemuda pun membesarkan kuda itu dengan sepenuh hati. Kuda putih itu juga merasa sangat dekat dengan pemiliknya yang baru.
Hingga suatu hari sang Pemuda kebingungan karena semua ternaknya mati terserang penyakit. Hanya kuda putih yang tersisa. Ia pun kebingungan bagaimana cara mencari uang karena yang ia miliki kini hanya seekor kuda. Setelah berpikir cukup lama, dengan berat hati sang pemuda meminta temannya itu untuk membantunya menarik delman.
Setelah bersusah payah membuat kereta dari kayu, ia pun memasangkan kereta tersebut pada kuda putih. Kuda putih tampak bahagia bisa membantu pemuda yang kini menjadi kusirnya.
Dengan delman yang ia miliki, ia bisa mengangkut anak-anak yang hendak menuntut ilmu, ibu-ibu yang hendak ke pasar, dan para pria yang hendak pergi bekerja. Karena tidak ada delman di desa itu, kusir dan delmannya sangat laris dan sibuk. Dalam waktu singkat, ia pun dapat menghidupi dirinya yang tengah kesusahan.
Beberapa tahun berlalu, sang kusir menjadi tua, sama halnya dengan kuda putih penarik delman. Ia sudah tidak sekuat dulu lagi. Larinya sudah sangat pelan. Bahkan anak-anak yang hendak belajar tidak sabar dengan larinya yang sangat lambat. Ibu-ibu yang hendak ke pasar sudah tidak mau menggunakan jasanya lagi karena delman milik sang kusir sudah tidak dapat berlari cepat lagi.
Kini, tak ada satu orang pun yang mau menaiki delman milik sang kusir. Ia hanya menunggu di sisi jalan dan orang-orang lebih memilih menaiki transportasi lain yang lebih cepat. Saat itulah tiba-tiba kuda putih itu berkata pada sang kusir.
“Teman, sepertinya perjalananku hanya sampai di sini. Maaf telah membuatmu kecewa karena aku sudah tua dan tidak bisa berlari kencang lagi.” ujar Kuda.
“Aku tidak akan memaksamu berlari, teman. Maafkan aku telah membuatmu letih setiap hari.”
“Tidak… tidak… kau tidak memaksaku. Aku melakukan semua itu dengan sukarela. Ingat… kau telah menyelamatkanku waktu itu, hingga aku bisa hidup sampai saat ini. Belilah kuda yang baru, pemilik yang sebelumnya membuatkanku sepatu dari emas dan kau bisa membeli beberapa ekor kuda dari situ.“
“Aku tidak menginginkan kuda yang banyak, aku hanya berharap kau baik-baik saja.” Namun, kuda putih itu terdiam dan tidak bergerak lagi untuk selamanya.
Sang kusir tersentak. Ia menyangka yang menjadi sepatu kuda putih miliknya itu adalah kuningan. Ternyata itu adalah sepatu emas. Mungkin pemilik kuda putih ini sebelumnya adalah seorang bangsawan kaya. Kusir pun menjual sepatu emas itu dan membeli beberapa ekor kuda yang muda dan kuat. Ia pun kembali menarik delman dan bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.
4. Kakek yang Selalu Bingung
Di sebuah desa, ada seorang kakek yang hidup sebatang kara. Ia baru saja memutuskan untuk pensiun setelah sekian lama bekerja keras. Ia memiliki sebuah celengan berisi uang hasil jerih payahnya sejak usia muda.Ia ingin di hari tuanya, dapat menikmati uang itu dengan menggunakannya secara bijak. Setelah celengan dibuka, ia menghitung semua uang dan mulai berpikir, kira-kira apa yang dapat ia beli dengan uang yang dimilikinya.
Ia pun berjalan-jalan ke pasar sambil membawa uang miliknya. Ia melihat beberapa ekor kambing muda dan bagus. Ia pun berpikir, jika uang itu digunakan untuk membeli beberapa ekor kambing maka ia dapat memeliharanya. Lama-kelamaan kambing itu beranak sehingga kambing miliknya akan menjadi banyak.
Namun, seketika itu juga tiba-tiba terbesit di dalam pikirannya, jika ia membeli kambing maka ia harus membuat kandang dan mencari rumput untuk makanan semua kambingnya. Ia pun berlalu meninggalkan penjual kambing dan justru memilih beberapa pakaian baru.
“Beberapa pakaian baru tidak akan menghabiskan uangku. Pakaianku kan sudah usang, tidak ada salahnya aku membeli beberapa helai, ucapnya pada diri sendiri.”
Beberapa hari kemudian, kakek tua itu kembali berpikir kira-kira apa yang akan ia beli dengan uang miliknya, yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah itu. Tak lama kemudian ia melihat penjual timun. Penjual timun itu menjajakan timun yang sangat bagus, buahnya besar dan ranum.
Terbesit di dalam pikirannya, jika ia membeli beberapa timun dan bijinya ditanam maka ia dapat memanen timun yang bagus-bagus seperti itu. Selain dijual, timun hasil panennya dapat dijadikan makanannya sehari-hari.
Namun, tiba-tiba ia menjadi kebingungan, karena jika ia menanam timun, ia harus selalu menyiram tanamannya agar subur, memupuknya, dan bahkan menjaganya dari hewan-hewan yang bisa saja mencuri timun miliknya. Ia pun berlalu meninggalkan pedagang timun dan memilih pulang. Namun, saat pulang, ia melihat beberapa pedagang makanan enak. Rasanya sudah lama ia tidak makan enak. Ia pun pulang dengan membeli begitu banyak makanan enak.
Keesokan harinya, kakek tua itu kembali berpikir apa yang akan ia beli dengan uang hasil bekerja saat usia muda. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ada seorang penjual ikan nila. Kakek tua itu melihat ikan-ikan nila itu mengibaskan sirip dan berenang di kolam kecil.
Terlintas di dalam pikirannya untuk memelihara ikan nila. Ikan nila akan cepat tumbuh besar dan beranak, lama kelamaan saat sudah besar, ikan tersebut dapat dijual dan menghasilkan uang.
Tiba-tiba Kakek tua kembali bingung, jika ia memelihara ikan, ia harus menyediakan makanan ikan setiap hari. Jika kemarau dan kolam ikan menjadi kering, ikan-ikan akan mati. Ia pun pergi meninggalkan ikan nila dan bergegas pulang.
Saat hendak pulang, tiba-tiba sandal yang ia kenakan putus. Sandalnya harus segera diperbaiki. Namun, butuh waktu lama untuk memperbaikinya. Ia pun mendekati penjual sandal dan membeli beberapa pasang sandal.
Hingga suatu hari, ia masih saja bingung apa yang akan ia beli. Pak tua terkejut karena uang di saku celananya telah habis. Pak tua sangat menyesal mengapa ia selalu bingung dengan apa yang ada di hadapannya. Pak tua sangat menyesal karena ia telah bekerja keras mengumpulkan uang di waktu muda, kini dengan mudah ia menghabiskan uang itu di waktu tua untuk sesuatu yang tidak begitu penting. Kini ia menikmati masa tua dengan tidak memiliki apa-apa.