JAKARTA - Berbagai penelitian tentang Covid-19 terus dikembangkan para ilmuwan. Terbaru, para peneliti dari Vrije Universiteit Amsterdam, Belanda mengungkap fakta baru bahwa mengupil bisa meningkatkan risiko Covid-19.
Dengan 219 profesional kesehatan dilibatkan dalam penelitian, mereka menyimpulkan ngupil lebih mungkin terkena Covid-19 selama enam bulan. Tingkat infeksi mencapai 17 persen untuk kebiasaan mengupil dibandingkan dengan 5,9 persen untuk yang lain.
Dihimpun dari Science Alert, Jumat (4/8/2023), para peneliti berpendapat bahwa meskipun mengupil tidak terbukti bisa menginfeksi. Namun mengupil dapat memindahkan serangga yang tidak sehat ke mukosa di dalam hidung.
“Dapat dihipotesiskan bahwa mengupil dan menggigit kuku secara teratur di lingkungan dengan tingkat sirkulasi virus yang tinggi memungkinkan transfer virus ke mukosa hidung atau mulut,” ujarnya.
Virus menyebar ke dua arah di sini. Diketahui bahwa ada viral load hidung yang tinggi untuk Covid-19 tepat setelah infeksi terjadi dan sebelum gejala muncul, yang kemudian dapat ditransfer ke permukaan kerja bersama dengan cara mengupil.
Kebiasaan itu juga memungkinkan orang mengambil virus dari tempat lain dan memindahkannya ke hidung, di mana kemudian menginfeksi. Walaupun para peneliti tidak yakin apakah ini benar bisa terjadi, tetapi tampaknya mungkin.
Perlu dicatat, studi ini hanya didasarkan pada pelaporan mandiri dan akan membutuhkan lebih banyak eksperimen terkontrol untuk mendukungnya. Meski demikian ini tetap menambah wawasan tentang bagaimana Covid-19 menular.
Sebagai informasi tambahan, Covid-19 sendiri belum sepenuhnya hilang di muka Bumi, dan bagi banyak orang, gejalanya dapat bertahan selama beberapa bulan atau lebih. Covid-19 masih menjadi bahan yang menarik untuk dikaji para ilmuwan.
"Mengupil belum pernah dilaporkan sebelumnya sebagai faktor risiko tertular SARS-CoV-2,” tulis para peneliti. “Temuan kami menyoroti pentingnya rongga hidung sebagai pelabuhan transit utama untuk SARS-CoV-2," kata mereka.
(Marieska Harya Virdhani)