Menengok Kontribusi Dunia Pendidikan dalam Pertahanan Siber

Natalia Bulan, Jurnalis
Jum'at 24 Maret 2023 18:05 WIB
Ilustrasi/Antara
Share :

Nah, upaya serupa yang seharusnya juga digagas dalam pembangunan “Bukit Algoritma” oleh Pemerintah. Terletak di Cikidang dan Cibadak Sukabumi, Jawa Barat, “Bukit Algoritma” digadang-gadang akan menjadi 'Silicon Valley'-nya Indonesia, yaitu kawasan pengembangan riset dan sumber daya manusia yang berbasis industri 4.0. Dalam peta jalannya, “Bukit Algoritma” di dalam kawasan itu akan dibangun science park, gedung penelitian yang akan disewakan untuk teknologi kuantum dan kecerdasan buatan, rekayasa nano untuk teknologi bangunan, penelitian otak dan rekayasa genetika, hingga produksi obat-obatan. Juga akan dibuat bangunan riset untuk komponen semikonduktor, pabrikasi otak komputer, dan energy storage berbentuk baterai.

Rencana “Bukit Algoritma” ini, jika memang diarahkan seperti “Silicon Valley,” tentu membutuhkan dukungan sumber daya yang tidak sedikit. Di samping itu, program Industri 4.0 yang dicanangkan Pemerintah juga membutuhkan sumber daya di bidang TIK dalam jumlah yang cukup besar. Seiring dengan program transformasi digital yang membungkus “Bukit Algoritma” dan Industri 4.0, di situ pula dibutuhkan kebijakan dan keahlian dalam bidang keamanan digital.

Perguruan tinggi sebagai institusi yang menyediakan sumber daya tersebut, sudah seharusnya mempersiapkan diri untuk memenuhi potensi permintaan (demand) yang bakalan tinggi itu.

Dalam pandangan penulis, kampus harus mengubah dirinya untuk dapat, tak hanya memenuhi permintaan, tetapi juga menciptakan generasi digital yang berkualitas. Orientasi keahlian yang mendukung penguatan keamanan siber tak bisa ditawar lagi.

Hal utama itu adalah pengembangan sikap mental kompetitif dan berpikir strategik bagi peserta didik.

Kemampuan ini yang sering kali dilupakan. Bermental kompetitif artinya tidak takut bersaing dengan negara-negara lain dalam mengambil peran di dunia maya.

Sementara berpikir strategik adalah kemampuan untuk mampu mengidentifikasi peran apa yang bisa dimainkan dan potensial di masa depan di antara belantara profesi di dunia digital.

Cerita mengenai orang-orang yang “tidak lulus kuliah” seperti Steve Jobs atau Mark Zuckerberg yang sukses mendirikan perusahaan besar (Apple dan Facebook atau Meta) tak perlu lagi dibesar-besarkan. Kesuksesan mereka bukan karena faktor drop out, tetapi mental kompetitif dan berpikir strategik.

Saat ini, Silicon Valley hampir didominasi alumni dua universitas ternama di Amerika Serikat, yaitu Harvard University dan Stanford University.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya