Sementara itu, Manajer Innovation Hub UNS, Siska Fitri Anggraheni menyampaikan penjelasan mengenai program SEMESTA ini. Terdapat dua skema inkubasi, yaitu pra start up dan start up.
“Perbedaannya, dari segi jumlah pendanaan, syarat, tujuan skema, dan target luaran. Pendanaan pra start up maksimal Rp25 juta dan untuk start up maksimal Rp100 juta pada SEMESTA Bright serta maksimal Rp450 juta untuk SEMESTA NRE kerja sama UNS dengan Pertamina. Lalu, syarat pra start up yaitu berupa ide produk yang menyelesaikan masalah dan bernilai jual, sedangkan start up harus memiliki purwarupa tervalidasi, uji validasi ide, solusi, dan uji validasi pasar,” jelasnya.
Kemudian, perbedaan berikutnya berdasarkan tujuan skema yaitu pada pra start up, validasi terhadap ide bisnis yang dimiliki sebelum membuat produk yang akan dijual ke market serta menyempurnakan produk hingga menjadi purwarupa tervalidasi.
Berbeda dengan start up yang tujuan skemanya berupa pengembangan bisnis lebih lanjut dengan membentuk holding company bersama Badan Pengelola Usaha (BPU) UNS serta produk massal dan komersialisasi.
“SEMESTA Bright terbuka bagi sivitas akademika UNS yang memiliki hasil riset atau invensi di bidang kesehatan, pangan dan pertanian, industri kreatif dan pariwisata, pendidikan, teknologi informasi dan komunikasi, sosial humaniora, serta energi baru terbarukan. Sementara, SEMESTA NRE yang bekerja sama dengan Pertamina dapat diikuti oleh masyarakat umum,” imbuhnya.
Dalam acara ini, CEO Panensia, Rio Dian Permana juga turut membagikan tipsnya dalam mengikuti program SEMESTA.