Gali Potensi Mangrove Sungai Apit sebagai Pangan Alternatif

Haliza Nurdilla , Jurnalis
Sabtu 04 Maret 2023 17:40 WIB
Gali potensi mangrove Sungai Apit sebagai pangan alternatif/Istimewa
Share :

JAKARTA - Mangrove merupakan ekosistem tepi pantai yang memiliki banyak manfaat baik dari sisi ekologi maupun ekonomi.

Daerah di Provinsi Riau yang terkenal dengan keanekaragaman mangrove yang tinggi adalah Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak.

Luas kawasan mangrove mencapai 25 hektar dan tercatat setidaknya terdapat 35 spesies mangrove yang hidup di sepanjang pesisir Sungai Apit. Hal ini membuat kawasan tersebut menjadi salah satu destinasi ekowisata.

Berdasarkan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilakukan oleh Dr. Elfis, M.Si., Dr. Prima Wahyu Titisari, M.Si., Dr. Syarifah Faraddina M.Ph., M. Akbar Maulana, Putri Selaras dan Haliza Nurdilla berupa sosialisasi kepada kelompok usaha Berembang Asri, bahwa selain menjadi kawasan ekowisata, terdapat beberapa spesies mangrove yg dapat dikembangkan menjadi produk pangan yang bernilai ekonomis.

Beberapa spesies tersebut adalah Api-api (Avicennia marina) yang buahnya dapat diolah menjadi tepung agar-agar, puding, kue bolu, bingka, keripik, kerupuk, kolak, dawet/cendol, onde-onde, gemblong, ketimus, combro dan kue talam.

Jenis berembang/pedada (Sonneratia alba) buahnya dapat diolah menjadi dodol, wajik, lempuk, sirup, jus, cocktail dan permen. Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) bisa dimanfaatkan buahnya untuk dijadikan dodol dan tepung untuk membuat kue bolu dan kue kering.

Jeruju (Acanthus ilicifolius) dimanfaatkan daunnya untuk dijadikan kerupuk, keripik, teh dan kopi.

Mulanya masyarakat hanya memanfaatkan mangrove sebagai fungsi ekologi saja. Adanya sosialisasi yang dilakukan membuka peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan mangrove dari sisi ekonomi.

Tidak hanya mengenalkan diversifikasi makanan mangrove, bapak/ibu dosen turut memotivasi masyarakat untuk semangat dalam berwirausaha dan melihat potensi lebih yang dimiliki mangrove sungai apit.

Masyarakat sangat antusias selama mengikuti kegiatan sosialisasi dan setuju untuk mengikuti kegiatan pengabdian selanjutnya, yaitu praktik membuat beberapa jenis kuliner yang sudah dibahas saat sosialisasi.

Kegiatan tersebut secepatnya akan dilakukan sembari menunggu masyarakat untuk mengumpulkan buah/daun mangrove yang diperlukan.

Haliza Nurdilla, aktivis Persma AKLAMASI UIR.

(Natalia Bulan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya