Di Bengkulu, ia mendapat banyak teman dan jaringan bisnis. Oey tidak hanya berteman dengan yang mempunyai kesamaan profesi, namun ia juga bersahabat dengan pejabat.
Saat Soekarno diasingkan ke Bengkulu pada 1938, Oey pun bersahabat baik dengan Soekarno, sama halnya persahabatan Oey dan Buya Hamka.
Di masa pengasingan itu, Bung Karno mengusulkan Oey diusulkan untuk menggantikan konsul Muhammadiyah Kota Bengkulu. Abdul Karim Oey sempat menolak tawaran tersebut, hingga akhirnya Soekarno meyakinkannya sambil mengajak kerja sama.
Menjelang Agresi Militer Belanda, Oey menjadi Ketua Partai Masyumi di Bengkulu. Ia dipandang sebagai tokoh yang disegani di Bengkulu. Pada 1963, Oey mendirikan PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia).
Namun pada 1972, PITI mengubah namanya menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.
Kedekatan Soekarno dan Oey terlihat pula saat Soekarno memanggil Oey ke Istana.
Kala itu Soekarno menceritakan kepada Oey bahwa pemerintah Indonesia memerlukan uang sebesar Rp250 juta untuk biaya Operasi Dwikora Ganyang Malaysia.
Kemudian Oey menyarankan supaya Soekarno mengundang pengusaha besar di Jakarta dan sekitarnya juga. Tak cuma itu, Oey pun berkomitmen untuk menyumbang Rp75 juta.