MALANG - Peristiwa penganiayaan yang terjadi di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nur 2 Malang diakui karena minimnya pengawasan.
Saat peristiwa terjadi disebut pengasuh Ponpes An-Nur 2 sudah pulang sekolah.
"Itu (kejadiannya) setelah selesai pelajaran. Dan itu kondisi anak-anak sudah pergi dari sekolah tinggal pelaku dan beberapa temannya. Terus kondisinya dzuhur waktu salat. Jadi tidak ada guru yang tahu memang, tidak ada pengurus yang tahu saat itu, memang benar," ucap Pengasuh Ponpes An-Nur 2 Bululawang Malang KH. Fathul Bari, dikonfirmasi wartawan pada Rabu (12/1/2023).
Peristiwa itu ketahuan karena naluri ibu korban yang tinggi sehingga langsung melakukan kunjungan ke Ponpes di luar jam kunjungan pondok.
Saat mengunjungi area pondok itulah DFA (12) disebut ditemukan ibunya dalam kondisi luka lebam dan berdarah di lantai.
"Insting seorang ibunya korban itu lansung datang ke pondok bukan jam kunjungan. Karena memang naluri ibu kuat. Jadi datang ke kamarnya dan anak-anak lagi jamaah. Di cari di jamaah tidak ada, ternyata dia bersama ditemani temannya yang saat itu mimisan. Begitu mimisan ada darahnya di lantai, kaget tenyata akibat kekerasan itu," jelasnya.
Sang ibu itu lantas menemui kepala kamar pondok dan di sanalah pengurus baru tahu telah terjadi penganiayaan di area pondok pesantren.