JAKARTA - Lapangan Banteng memiliki sejarah panjang. Dengan seluas 2,5 hektare, lapangan ini berada di dekat Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.
Nama Lapangan Banteng diberikan oleh Ir. Soekarno. Di tengah lapangan ini, terdapat Monumen Pembebasan Irian Barat yang juga dibangun oleh presiden pertama Indonesia.
Sebelumnya, pada masa penjajahan, lapangan ini dikenal sebagai Waterlooplein Square dari bahasa Belanda yang didirikan oleh Gubernur Jenderal Marsekal Daendels.
Lapangan ini telah mengalami perubahan berulang kali. Pada penjajahan Jepang, Lapangan Banteng digunakan sebagai area latihan militer.
Kemudian, di tahun 1967, Lapangan Banteng digunakan sebagai terminal bus dan lapangan olahraga.
Sampai pada 25 Juli 2018, Lapangan Banteng diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menjadi taman setelah dilakukan revitalisasi selama setahun.
Lapangan ini menjadi ruang terbuka hijau yang dapat dikunjungi masyarakat.
Sejarah Dua Hewan
Pada masa kolonial Belanda, Lapangan Banteng dikenal juga sebagai Lapangan Singa.
Hal ini dikarenakan di tengah lapangan tersebut ada patung berbentuk singa sebagai tanda peringatan kemenangan pertempuran Waterloo.
Mengutip dari MPI, pertempuran itu yang terjadi di Brussels, Ibu Kota Belgia pada 18 Juni 1815 merupakan penutup sejarah Napoleon sebagai Kaisar Prancis.
Sampai akhirnya, ketika Jepang menjajah Indonesia, patung singa itu dirobohkan.
Ketika Indonesia telah merdeka dan tidak berada di bawah penjajahan, Soekarno pun mengubahnya menjadi Lapangan Banteng.
Nama banteng diberikan untuk menciptakan identitas baru dan republik merdeka yang baru terbentuk.
Jika nama Lapangan Singa terkesan mengingatkan masa penjajahan Belanda, maka Lapangan Banteng diartikan sebagai perwakilan semangat perjuangan rakyat Indonesia.
Penyebutan Lapangan Banteng dikenal oleh masyarakat Indonesia juga. Hal ini dikarenakan di kawasan tersebut setelah merdeka masih banyak hewan liar, seperti kijang, macan, dan banteng.
Selain itu, ada pula yang menyebutkan bahwa terdapat banyak kubangan lumpur di sana yang sering digunakan kerbau untuk berendam.
(Natalia Bulan)