Di tahun 2015, pria kelahiran Solo 1 Desember 1957 ini sempat dianugerahi gelar 'La Ode Lakina Kaogesana Lipu' oleh perangkat adat Kesultanan Buton yang dipimpin oleh Sultan Buton ke-40, H La Ode Muhammad Izat Manarfa ada 11 Oktober 2015.
Pemberian gelar kehormatan kepadanya dilakukan saat Tjahjo Kumolo melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara, saat masih menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri.
Pemberian ini merupakan gelar masyarakat Buton sebagai adik laki-laki yang selalu dimuliakan, dihormati, dan dihargai karena kepiawaiannya dapat diguguh dan ditiru.
Tjahjo Kumolo adalah sosok politisi yang sangat matang dan piawai dalam menangani berbagai persoalan.
Seperti misalnya kisruh pengesahan APBD DKI 2015 yang nyari deadlock karena karena cekcok antara Gubernur dan DPRD.
Namun Kemendagri di bawah pimpinan Tjahjo Kumolo saat itu, berhasil mencarikan solusi yang bisa diterim aoleh semua pihak, lantaran ia menempatkan kementeriannya dalam posisi yang netral.
Tjahjo Kumolo juga sempat mengkritisi APBD yang dirancang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang pada masa tersebut menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
APBD saat itu menurutnya banyak item pemborsan dan mencoretnya, permintaan Ahok untuk mendapatkan besaran APBD yang diingkannya tidak digubrisnya karena melanggar aturan.
Kemendagri saat itu hanya mengesahkan pagu anggaran APBD DKI 2015 senilai Rp69,286 triliun.
Kebijakan Tjahjo Kumolo lainnya yang progresif adalah melakukan pengawasan terhadap dana bantuan sosial (bansos) dalam APBD daerah.
Mengingat dana tersebut kerap dijadikan Kepala Daerah sebagai amunisi untuk merawat konstituen agar terpilih kembali pada Pilkada berikutnya.
Tjahjo Kumolo cukup serius dalam hal itu, ia meminta dukungan KPU dan Bawaslu untuk mengawasi aliran dana Bansos.
Ia juga meminta pihak kepolisian untuk mengawasinya. Sayangnya, saat Kemendagri sedang fokus melakukan penertiban terhadap Bansos Daerah, Presiden Jokowi justru punya kebiasaan yang tidak sejalan dengan itu.
Dalam kasus kerusuhan Tolikara, Tjahjo juga menunjukkan kelasnya. Dalam kasus tersebut ia berpikir secara strategis dengan mencari akar permasalahannya.