Termasuk mengatasi beberapa permasalahan terkait sifat- sifat kimia bahan obat yang tidak ideal dan menghasilkan efisiensi proses dalam produksi skala besar sehingga dapat meringankan biaya.
Dalam pengobatan dikenal istilah nanomedicine yang difokuskan pada pengembangan sistem penghantar obat tertarget, terutama sebagai anti kanker.
Pembuatan sistem penghantar berbasis lipid dengan ukuran nanometer memberikan keuntungan untuk bahan obat yang mudah terurai dan yang sulit menembus membran sel menuju target.
Sementara Prof. Febriyenti memaparkan orasi berjudul Belut sebagai Suplemen Kesehatan dan Obat Luka.
Dari penelitian yang dilakukan oleh Prof. Febriyanti, ternyata belut mengandung protein, lemak dan zat gizi yang tinggi.
Prof. Febriyenti berhasil membuat formula belut menjadi kapsul dan tablet belut yang praktis dalam penyimpanan dan pemakaiannya.
Selanjutnya, belut juga mengandung asam amino dan asam lemak yang diperlukan dalam proses penyembuhan luka. Belum banyak obat luka yang menggunakan bahan alam yang dapat berfungsi untuk mempercepat penyembuhan luka.