SOLO – Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggandeng Asosiasi Pendidik Seni Indonesia (APSI) Wilayah Solo Raya menggelar Seminar Nasional bertema Proses Kreatif Penciptaan Seni Rupa. Acara ini diselenggarakan secara daring.
(Baca juga: Pengalaman Dosen UNS Puasa Ramadan di Amerika, dari Kolak hingga Sholat Tarawih)
Acara dibuka dengan sambutan oleh Ketua APSI Cabang Solo Raya sekaligus Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS, Prof. Dr. Slamet Subiyantoro, M.Si.
“Tujuan diadakannya kegiatan ini untuk memperkaya wawasan kesenirupaan, seni budaya, dan pendidikan seni baik untuk dosen, guru, mahasiswa, serta praktisi, pendidik lainnya,” ujar Prof. Slamet dalam keterangannya, Minggu (17/4/20220.
Dosen Pendidikan Seni Rupa FKIP UNS, Adam Wahida, memaparkan materi tentang Penciptaan Seni Lukis sebagai Riset. Ia menerangkan ada banyak metode dan tahapan proses kreatif yang digunakan untuk pencipataan seni menurut beberapa pendapat ahli.
“Menurut David Campbell tahapan penciptaan seni dimulai dari persiapan, konsentrasi, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi produksi,”ujar Adam.
“Sementara menurut Graham Wallas tahapan dimulai dari persiapan, inkubasi, inpirasi atau ilham, dan elaborasi,perluasan, pemantapan. Kemudian menurut Konsorsium Seni tahapan dimulai dari persiapan, pembentukan, dan presentasi,” sambung Adam.
Namun, ia melanjutkan bahwasanya tahapan dalam penciptaan seni bisa terjadi tidak selalu teratur urutannya seperti dalam pemikiran masalah ilmiah.
Tahap-tahap tersebut diarahkan untuk meyakinkan bahwa sebuah proses kerja intuitif adalah proses kerja ilmiah. Sebagai bagian dari proses kerja ilmiah, maka produk yang dihasilkan kedudukannya setara dengan produk ilmu pengetahuan.
“Adapun dalam proses penciptaan karya seni murni (seni lukis), seniman berada dalam wilayah kerja representatif dan kontemplatif secara bersamaan sehingga karya yang dihasilkan multitafsir,” tambah Dr. Adam.
Sementara itu, narasumber kedua Dr. Deny menyampaikan materi tentang Video - Film Eksperimental. Ia mengungkapkan film eksperimental, sinema eksperimental, atau sinema avant-garde adalah mode pembuatan film yang secara intens mengevaluasi kembali konvensi sinematik dan mengeksplorasi bentuk-bentuk non narasi atau alternatif dari narasi atau metode kerja tradisional.
“Istilah film eksperimental menggambarkan berbagai gaya pembuatan film yang sering kali berbeda dari, dan sering bertentangan dengan, praktik pembuatan film komersial dan documenter (film arus utama),” ungkap Dr. Deny.
Selanjutnya pemateri Misbakhul Munir menyampaikan tentang Proses Kreatif dari Prespektif Trend and Global Market. Ia mengungkapkan bahwa yang dimaksud kreatif adalah sesuatu hal yang beda, menarik, inovatif, out of the box, serta mampu membaca peluang dan trend.
Terakhir ialah pemaparan materi dari narasumber Zulkarnain. Ia menjelaskan tentang Concept Artist - Illustrator. Dalam berkarya dibidang konsep artis haruslah cepat, bebas dan gila. Namun tetap harus memperhatikan keinginan customer.
(Fahmi Firdaus )