Andy menjelaskan, ITS mendapatkan nilai tertinggi pada kategori Kinerja Seismik yang juga memiliki bobot paling besar yaitu 25 persen. Pada penilaian kategori ini, model bangunan diuji dengan digetarkan pada meja penggetar dengan frekuensi 1,5 Hz, 2,5 Hz, 3,5 Hz, 4,5 Hz, dan 5,5 Hz dengan amplitudo 10 milimeter serta masing-masing frekuensi satu menit.
Desain model apik dari tim Fukuro tersebut berhasil mendapatkan simpangan residual paling besar tanpa terjadi keruntuhan. “Karena di kategori ini mendapatkan nilai tertinggi, akhirnya perolehan nilainya pun tinggi sehingga bisa dapat juara 1,” jelasnya.
Tentunya kemenangan ini tidak datang tanpa perjuangan, mulai dari seleksi proposal hingga bisa maju ke tahap final melawan perguruan tinggi lainnya. Beberapa tantangan hadir seperti waktu perakitan model yang terbilang singkat. Untuk KJI, tim ITS berada di urutan kelima dan di KBGI di urutan pertama dalam menyelesaikan perakitan. Meskipun begitu, tim ITS tetap optimistis dan terus bekerja keras hingga memenangkan berbagai piala.
(Susi Susanti)