Sempat Diremehkan
Perjuangan Femy yang berhasil alih haluan dari atlet menjadi Duta Wisata Sragen tentu sempat mengejutkan berbagai orang di sekitarnya. Ia bercerita bahwa sehari setelah dinobatkan, Ia langsung bertugas. Namun, belum ada 1 x 24 jam usai penobatan, datang omongan negative yang mengatakan bahwa kemenangan Femy karena ayahnya bekerja di Pemda Sragen. Hal ini sempat membuat Femy down, terlebih kalimat tersebut dilontarkan salah satu finalis lain.
Namun, Ia berusaha membuktikan bahwa apa yang dikatakan temannya tersebut salah. Ia berhasil meraih gelar sebagai Duta Wisata Sragen berkat kerja keras yang dilaluinya.
“Dari situ harus ngebuktiin, aku ga bisa menutup omongan mereka, aku punya 2 tangan yang cuma bisa nutup telinga aku. Lama-kelamaan nutup telinga pasti orang-orang akan ngomong hal yang sama, dari sini aku membuktikan melalui Mas Mbak Jateng. Dengan aku menang di Mas Mbak Jateng, aku bisa ngebuktiin kalau omongan mereka salah dan hanya iri dengki belaka,” ungkapnya.
Semua proses, usaha, dan tangisan, semuanya membuahkan hasil luar biasa.
“Kamu harus berpsoses, kalau bisa jalan berdarah-darah pun pasti harus dilakuin karena balik lagi, ga ada hasil yang menghianati usaha. Apalagi ketika kamu bisa menang terus melihat orang tua tersenyum bahagia melihat anaknya berprestasi, itu sebuah momen yang luar biasa,” tuturnya.
Ia mengatakan bahwa dukungan orang tua menjadi salah satu sumber energi terbesarnya.
“Alhamdulillah punya keluarga yang support 100 persen apapun yang aku perjuangkan, yang penting apa yang aku lakukan itu positif, tidak merugikan sekolah ataupun akademik. Orang tua selalu dukung, bahkan nganterin ke manapun aku bertugas atau pas aku butuh apa orang tuaku selalu ayo orang tua pasti bantu,” pungkas Femy. (din)
(Rani Hardjanti)