Alumnus Harvard Business School ini menjelaskan, sama halnya dengan program magang bersertifikat yang bisa diambil mahasiswa di perusahaan manapun maka mahasiswa pun bisa mengambil riset tentang alam, teknologi riset energi terbarukan ataupun riset produk baru yang bisa diinisiasi oleh mahasiswanya.
Selain riset, Nadiem menerangkan, projek-projek sosial di desa juga akan didorong. Menurutnya, semenjak program Kampus Merdeka diluncurkan sejumlah kementerian sudah antri bergabung. Misalnya Kemendesa PDTT yang ingin mengembangkan BUMDES ataupun Kementerian Pertanian yang ingin menciptakan petani milenial yang melek teknologi.
Sementara Education Program Lead di Google untuk wilayah Asia Pasifik William Florance menjelaskan, semua mahasiswa yang ikut program Bangkit diminta untuk mengerjakan projek akhir kelompok. Tema yang diambil ialah terkait salah satu strategi priorotas dalam RPJMN dan strategi nasional kecerdasan artifisial.
Tahun ini, katanya, 483 tim menyelesaikan penugasan ini. "Setiap tim diminta untuk membuat solusi untuk tema yang dipilih dan memproduksi prototipe kerja yang melibatkan machine learning, mobile development dan cloud computing," tuturnya.
Dari 483 projek yang masuk, jelasnya, diseleksi menjadi 50 projek semifinalis. Selanjutnya, tim panel ahli dari berbagai bidang pun mengevaluasi dan memilih 15 projek finalis yang masing-masing akan menerima dana USD5 ribu dari Google untuk pendanaan inkubasi. (din)
(Rani Hardjanti)