JAKARTA - Konflik Palestina dan Israel tidak luput dari peran media yang senantiasa memberitakan perkembangan perseteruan kedua negara tersebut. Bahkan, saat ini ketersediaan informasi semakin mudah dengan adanya kemajuan teknologi.
Untuk mengetahui update terkini dari suatu peristiwa, siapapun dapat mengakses situs-situs media online melalui gawai (ponsel). Kemudahan akses tersebut menjadi hal yang mengkhawatirkan apabila informasi yang diperoleh tidak bisa dipertanggungajawabkan reliabilitasnya.
Salieg Luki Munestri, dosen Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNS sekaligus pengamat media mengatakan, terdapat etika jurnalisme profesional yang harus dipenuhi agar suatu berita atau informasi dapat dipertanggungajawabkan reliabilitasnya.
“Tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa itu tidak pernah netral. Artinya ketika kita berbicara tentang kekejaman yang terjadi di Gaza, bahasa atau pilihan kata yang kita pakai itu menunjukkan ada di posisi mana kita berdiri,” ungkap Salieg, beberapa waktu lalu.
Baca juga: PBB Akan Selidiki Dugaan Pelanggaran dan Kekejaman Selama Konflik Hamas-Israel
Hal serupa juga berlaku bagi sebuah media massa, lanjut Salieg, bahasa dan pilihan kata yang digunakan oleh sebuah media dapat menimbulkan adanya bias media. Begitu juga dengan pemberitaan mengenai konflik Israel-Palestina yang dilakukan oleh media di Amerika Serikat.
“Bias media sering kali menggiring kita pada pemahaman yang salah tanpa mengetahui sisi kecenderungan media tertentu, kita tidak akan sadar bahwa kita sebenarnya telah timpang dalam mendapatkan informasi,” ujarnya.
Salieg memaparkan Media Bias Chart di Amerika Serikat. Media Bias Chart tersebut terdiri dari 5 kategori, yakni Left, Lean Left, Center, Lean Right, dan Right. Dua spektrum Left dan Right merepresentasikan polarisasi politik Amerika Serikat, yakni antara Partai Demokrat dengan Partai Republik.
Baca juga: Gencatan Senjata Disepakati, Hizbullah: Selamat Atas Kemenangan Bersejarah Rakyat Palestina
“Center ini tidak berarti unbias atau netral bahkan kredibel. Jadi center di sini lebih bermakna bahwa sebenarnya berita tersebut tidak predictable arahnya ke mana. Jadi tidak ke kiri, tidak ke kanan, atau bisa ke kiri, dan bisa ke kanan,” ungkap Salieg.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan pemahaman informasi yang berimbang, Salieg Luki Munestri mengimbau supaya netizen mengkonsumsi berita dari kedua spektrum.
“Itu adalah pola diet konsumsi media yang cerdas,” imbuhnya.
Peran Media Amerika
Terkait dengan dukungan kedua partai politik Amerika Serikat terhadap Israel dan Palestina, kata Salieg, media massa berperan dalam membentuk identitas politik generasi-generasi Amerika. Hal tersebut dapat berdampak pada ketimpangan informasi yang diperoleh sehingga polarisasi ideologi politik akan terbentuk dengan kuat.