JAKARTA - Dibalik kesuksesan program vaksinasi Covid-19, tidak bisa lepas dari kerja sunyi para peneliti yang melakukan uji klinis vaksin agar mendapatkan data khasiat dan keamanan yang valid.
Uji klinis merupakan tahapan penting dalam pengembangan vaksin. BPOM merilis efikasi atau tingkat kemanjuran vaksin tersebut sebesar 65,3 persen.
Dalam uji klinis vaksin COVID-19, juga tak bisa dilepaskan dari peran tim yang diketuai oleh Dr Novilia Sjafri Bachtiar dr MKes. Novi demikian sapaan akrabnya merupakan Kepala Divisi Surveilans dan Riset Klinis Bio Farma yang membidangi proses uji klinis vaksin COVID-19. Proses uji klinis vaksin COVID-19 sudah dimulai sejak Agustus 2020 lalu.
Baca Juga: Kenali Gejala Long Covid-19, Bisa Muncul Usai Pulih dari Corona
Novi yang berkarir di perusahaan farmasi milik negara itu menjelaskan, pandemi membuat masyarakat semakin akrab dengan uji klinis. Padahal sebelum pandemi, uji klinis merupakan sesuatu yang asing di telinga.
“Jadi memang tugasnya sedang berat-beratnya, kemarin BPOM sudah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau EUA, dan sekarang kami melakukan pemantauan di lapangan. Mulai dari pengiriman produknya hingga efek samping dari vaksin terutama yang terkait dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi,” ujar Novi saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (2/3/2021).
Baca Juga: Kisah Anak Petani yang Berhasil Jadi Sarjana Kedokteran
Pelaksanaan uji klinis kandidat vaksin Covid-19 harus memenuhi aspek ilmiah dan menjunjung tinggi etika penelitian sesuai dengan Pedoman Cara Uji Klinik yang Baik.
Proses uji klinis suatu vaksin membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Novi menjelaskan paling tidak ada tiga tahap yang harus dilalui yakni fase pertama, kedua dan ketiga.
Fase pertama dilakukan dengan jumlah relawan yang sedikit. Jika fase pertama berjalan baik, maka dilanjutkan ke fase kedua. Nah, pada fase kedua uji klinis dilihat apakah terjadi kenaikan antibodi di dalam darah sebelum dan sesudah vaksinasi.