JAKARTA - Bau keringat ketiak bisa menjadi tolak ukur adanya Covid-19 atau tidak, dengan sebuah alat pendeteksi yang diciptakan oleh Guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD. Seperti apa penampakannya?
Diungkapkan Ryan, i-nose c-19 merupakan hasil penelitian selama empat tahun yang kemudian dioptimalkan dengan menyesuaikan virus Covid-19 sejak Maret 2019 lalu. Saat ini, i-nose c-19 telah sampai pada fase satu uji klinis. “Ke depannya akan ditingkatkan lagi data sampling-nya untuk izin edar dan dapat dikomersialkan ke masyarakat,” ujar dosen Teknik Informatika ITS ini, seperti dikutip dari laman ITS, Selasa (19/1/2021).
Berdasarkan pengamatan Okezone, i-Nose merupakan perangkat elektronik untuk screening Covid-19 dan pertama di dunia yang mendeteksi melalui bau keringat ketiak (axillary sweat odor).
Baca Juga: Heboh Alat Pendeteksi Covid-19 dari Bau Keringat Ketiak, Begini Cara Kerjanya
i-nose c-19 bekerja dengan cara mengambil sampel dari bau keringat ketiak seseorang dan memprosesnya menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
“Keringat ketiak adalah non-infectious, yang berarti limbah maupun udara buangan i-nose c-19 tidak mengandung virus Covid-19,” ungkapnya.
Ryan berharap, semoga i-nose c-19 ini dapat segera dikomersialkan dalam waktu maksimal tiga bulan ke depan. “Melihat semakin meningkatnya penyebaran virus Covid-19 ini dunia membutuhkan banyak teknologi screening yang mudah dan cepat diimplementasikan,” ujar Ryan.