Amnidi berkisah dirinya pernah menganggur hingga dua bulan lamanya. Sementara saat itu dia harus membiayai anak bungsunya yang akan masuk SMP. Momen itu menjadi masa berat baginya. Namun, Tuhan tidak pernah tidur, selalu ada jalan yang dibukakan bagi para hambanya yang selalu berusaha.
Di tengah kondisi yang serba sulit, Eko berhasil meraih juara pertama tingkat provinsi Kepulauan Riau dalam Olimpiade Astronomi 2018 dan menjadi wakil untuk berlaga di tingkat nasional. Prestasi itu membawa kebanggaan bagi keluarga dan daerahnya.
“Menang lomba Eko dapat uang saku dan itu digunakannya untuk membantu membiayai keperluan adiknya masuk SMP,” ucapnya menahan haru.
Amnidi menuturkan Eko merupakan anak yang berprestasi di sekolah. Saat SD selalu berada di peringkat 1 dan SMP serta SMA masuk 3 besar di kelas. Selain itu, juga mengikuti sejumlah perlombaan yang diadakan oleh berbagai institusi.
Beberapa prestasi yang tercatat antara lain juara 3 porseni puisi tingkat Kota Batam 2015, juara 1 debat agama Islam tingkat Provinsi Kepulauan Riau 2018, juara 3 nasional dalam kompetisi riset di ITB 2018, dan juara 1 olimpiade astronomi tingkat Kepulauan Riau 2018.
Ketika ditemui di kediamannya, Amnidi hanya seorang diri. Sang isteri saat itu tengah berada di Singapura. Isterinya bekerja serabutan membantu memasak dan mencuci piring di sebuah restoran yang ada di Singapura.
“Ini isteri sedang di Singapura, 2 minggu disana bantu kerja di restoran,” katanya.
Sementara itu, Eko sudah berada di Yogyakarta sejak sebelum bulan puasa. Selama kuliah nantinya anaknya akan menumpang di rumah sang bibi hingga lulus kuliah.
Amnidi berharap nantinya Eko bisa menjalani kuliah dengan lancar dan lulus tepat waktu. Hanya iringan doa yang bisa dia berikan untuk kesuksesan anaknya kelak.
“Belajar yang benar dan tidak usah pulang sebelum berhasil. Kami disini selalu berdoa agar kuliah bisa lancar dan nantinya menjadi orang sukses,” ucapnya.
Sebelumnya saat ditemui di Kampus UGM, Eko mengaku keinginan untuk bisa kuliah telah ada sejak kecil. Karenanya dia tekun belajar agar bisa berprestasi dan akhirnya dapat masuk UGM lewat jalur SNMPTN Undangan dan mengajukan beasiswa bidikmisi sehingga bisa meringankan beban keluarga.
“Pengin kuliah sudah sejak SMP dan orang tua sebenarnya mendukung. Kendalanya kami ini hanya dari keluarga yang biasa-biasa saja sementara biaya kuliah sangat besar,” tutur alumni SMA 1 Batam ini.
Namun, pengagum karya-karya Chairil Anwar dan Sapardi Djoko Damono ini tidak pernah patah arang. Dengan segala keterbatasan keluarga dia terus berjuang menggapai mimpi-mimpinya. Tak sekalipun merasa malu atau pun berkecil hati dengan keadaanya saat ini.
“Saya tidak pernah minder meski bapak buruh bangunan. Justru sangat bangga bapak yang buruh bangunan bisa menyekolahkan saya sampai ke UGM, ini luar biasa,” katanya penuh kebanggaan.
Ketekunannnya dalam belajar dan doa orang tua akhirnya berbuah manis. Apa yang dicita-citakan Eko akhirnya terwujud.
“Jangan pernah menggapai mimpi, kalau kita sungguh-sungguh pasti akan ada jalan,” sebutnya.
Eko adalah satu dari ribuan anak bangsa yang lahir dari keluarga kurang mampu. Kendati begitu, dia berhasil membuktikan keterbatasan ekonomi tidak menjadi halangan untuk menggapai pendidikan setinggi-tingginya
(Rani Hardjanti)