Begitu juga tenaga didik, stamina dan metode yang dipraktikkan berbeda antara satu guru dengan lainnya.
"Guru kalau ngajarnya cuma ngomong saja ya bosan muridnya. Kalau sudah begitu, anak didik tidak konsentrasi, hanya melihat waktu kapan selesai pelajaran," paparnya.
Untuk itu, Andar tak mempermasalahkan kebijakan lima atau enam hari masuk sekolah. Namun, kualitas pembelajaran itu yang harusnya lebih dulu dibenahi sebelum menerapakan kebijakan tersebut.
"Lama tapi membosankan, jelas tidak berkualitas. Sebentar tapi berkualitas jauh lebih baik dalam memanfaatkan waktu," tandasnya. (ira)
(Susi Fatimah)