Akibatnya, penerapan kurikulum yang berat itu hanya menguasai sedikit ilmu di banyak aspek. Hal itu kurang efektif karena yang dipelajari tidak semuanya diimplementasikan.
"Anda lihat mau masuk perguruan tinggi, kedokteran, teknik, arsitek, pertanian, dan sebagainya itu tesnya sama. Ini perlu dibenahi agar sinkron," sebutnya.
Sarana dan prasarana juga harus menunjang. Tidak semua sekolah memiliki sarana dan prasana yang memadai untuk penerapan lima hari masuk sekolah. Begitu juga dengan kualitas pembelajaran yang diterapkan oleh tenaga didik. Sumber daya manusia dari tenaga didik juga menjadi kunci keberhasilan pembelajaran.
"Seberapa jauh porsi yang diberikan pada anak seimbang antara akademik dan nonakademik," ujarnya.
Misal, kata dia, jika dipaksa lima hari, dan belajar akademik sampai pukul 15.00 atau 17.00 WIB, pasti pengajar ataupun siswa akan terasa keberatan.
"Dalam teori ada batas kemampuan anak mendengar dan mencerna pelajaran. Semakin lama semakin berkurang, jangan-jangan pelajaran kimia jam tiga sore tidur semua muridnya," ujarnya.