Sabtu Libur Sekolah Tak Masalah, Asal Benahi Pendidikan

Prabowo, Jurnalis
Sabtu 10 September 2016 14:23 WIB
Foto: Dok. Okezone
Share :

YOGYAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berencana menerapkan full day school. Jika benar terealisasi, tak menutup kemungkinan para siswa akan libur pada Sabtu.

Alasan yang mendasari libur sekolah pada Sabtu supaya lebih banyak waktu siswa didik untuk berkumpul dengan keluarganya. Dengan begitu, ada interaksi kepribadian dan bisa juga berwisata agar perekonomian lebih baik.

Kepala Sekolah SMA Bopkri 1 Yogyakarta, Andar Rujito, tak mempermasalahkan jika kebijakan Sabtu menjadi hari libur bagi siswa. Namun, dia melihat perlu pembenahan pada dunia pendidikan.

"Bagi saya tidak masalah lima hari masuk, Sabtu libur. Asal kurikulum diperbaiki, sarana prasaran juga, dan yang tak kalah penting kualitas pendidikan ditingkatkan," katanya ditemui Okezone, belum lama ini.

Menurutnya, kurikulum yang diterapkan untuk sekolah saat ini masih memberatkan siswa didik. Dia memberi contoh, sekolah internasional di Jakarta yang notabene kualitasnya lebih unggul justru menerapkan kurikulum yang ringan.

"Pelajaran kok sampai 16, itu memberatkan. Beberapa sekolah internasional hanya delapan pelajaran," tuturnya.

Akibatnya, penerapan kurikulum yang berat itu hanya menguasai sedikit ilmu di banyak aspek. Hal itu kurang efektif karena yang dipelajari tidak semuanya diimplementasikan.

"Anda lihat mau masuk perguruan tinggi, kedokteran, teknik, arsitek, pertanian, dan sebagainya itu tesnya sama. Ini perlu dibenahi agar sinkron," sebutnya.

Sarana dan prasarana juga harus menunjang. Tidak semua sekolah memiliki sarana dan prasana yang memadai untuk penerapan lima hari masuk sekolah. Begitu juga dengan kualitas pembelajaran yang diterapkan oleh tenaga didik. Sumber daya manusia dari tenaga didik juga menjadi kunci keberhasilan pembelajaran.

"Seberapa jauh porsi yang diberikan pada anak seimbang antara akademik dan nonakademik," ujarnya.

Misal, kata dia, jika dipaksa lima hari, dan belajar akademik sampai pukul 15.00 atau 17.00 WIB, pasti pengajar ataupun siswa akan terasa keberatan.

"Dalam teori ada batas kemampuan anak mendengar dan mencerna pelajaran. Semakin lama semakin berkurang, jangan-jangan pelajaran kimia jam tiga sore tidur semua muridnya," ujarnya.

Begitu juga tenaga didik, stamina dan metode yang dipraktikkan berbeda antara satu guru dengan lainnya.

"Guru kalau ngajarnya cuma ngomong saja ya bosan muridnya. Kalau sudah begitu, anak didik tidak konsentrasi, hanya melihat waktu kapan selesai pelajaran," paparnya.

Untuk itu, Andar tak mempermasalahkan kebijakan lima atau enam hari masuk sekolah. Namun, kualitas pembelajaran itu yang harusnya lebih dulu dibenahi sebelum menerapakan kebijakan tersebut.

"Lama tapi membosankan, jelas tidak berkualitas. Sebentar tapi berkualitas jauh lebih baik dalam memanfaatkan waktu," tandasnya. (ira)

(Susi Fatimah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya