Dampak Full Day School, Siswa Terancam Tak Mengenal Lingkungan Sosial Budaya

Rus Akbar, Jurnalis
Kamis 11 Agustus 2016 09:08 WIB
Sekolah Uma di Dusun Tinambu , Desa Muntei , Kepulauan Mentawai. (Foto: Rus Akbar/Okezone)
Share :

PADANG – Gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengenai program full day school untuk pendidikan dasar negeri dan swasta dinilai tidak tepat untuk di wilayah Mentawai, Sumatera Barat.

Salah satunya diungkapkan oleh Koordinator Divisi Kajian Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM), Tarida Hernawati, yang keberatan soal penerapan full day school. Menurut dia, sekolah di Mentawai tidak tepat menerapkan program full day school. Sebab jika diterapkan, anak-anak akan menghabiskan waktunya di sekolah.

"Kalau di Mentawai, keluarga dan rumah itu yang menjadi sekolah utama bagi anak. Sedangkan formal itu sekolah kedua," kata Tarida yang pernah menjadi kandidat ‘Pahlawan untuk Indonesia’ oleh MNCTV 2013 kepada Okezone.

Baginya, anak-anak harus belajar lingkungan sosial budaya di dalam keluarga. Apalagi di Mentawai masih kental budaya dan adatnya. Mereka banyak menghabiskan waktu untuk punen (acara adat), mu lia (ritual adat), kegiatan sosial, dan aktivitas lainnya untuk mengenal lingkungannya.

"Anak-anak menghabiskan waktu di lingkungan alam, belajar tentang alam, mengikuti orangtua di ladang, di hutan bermain di sungai. Sementara di sekolah kita yang ada di Mentawai tidak tepat untuk perkembangan mereka secara psikologi, mental, dan lingkungan sosial. Jadi konsep full day school itu tidak tepat untuk Mentawai,” kata alumnus Antropologi Universitas Sumatera Utara itu.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya