Bidang TI di Binus, lanjut dia, sangat beragam. Anggota Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) Indonesia itu memaparkan, TI harus disesuaikan dengan perkembangan zaman yang dinamis. Kemampuan TI akan membantu seorang lulusan untuk bersaing ketika mencari pekerjaan.
"Ada IT audit, pengembangan game, mobile, hardware, dan sebagainya. Tapi sebetulnya tidak cukup juga hanya menonjol di IT, mereka juga harus paham yang lainnya. Sama seperti kalau orang pintar saja tak cukup, tetapi harus punya soft skill juga. Saat ini para pegawai yang sudah 40 tahun ke atas harus waspada dengan generasi muda yang melek IT dan relatif mau digaji lebih kecil," terangnya.
Binus University sendiri nyatanya juga sudah memberikan wawasan industri kepada para mahasiswa sejak dini. Harjanto menjelaskan, kampus mengembangkan program '3 plus 1'. Artinya, mahasiswa hanya kuliah selama tiga tahun, sedangkan satu tahun berikutnya terjun langsung ke lapangan. Industri atau perusahaan akan disesuaikan dengan bidang masing-masing mahasiswa.
"Ini merupakan bagian dari kompetensi dan berlaku untuk semua jurusan. Harapannya supaya setelah keluar dari kampus dia tidak canggung. Perusahaan juga lebih mengenal alumni Binus karena sudah satu tahun magang," ucapnya.
Sosok yang menyelesaikan studi S-3 nya di Universitas Padjajaran (Unpad) itu menilai, persaingan saat ini semakin ketat. Para mahasiswa yang kuliah di luar negeri bahkan memilih bekerja di Indonesia. Itu berarti lulusan kampus Indonesia harus siap, jangan sampai kemampuannya tak sebanding dengan lulusan luar negeri.