Harjanto menjelaskan, alasan lebih berat mengelola internal kampus lantaran seiring berkembangnya zaman, perubahan dari luar menjadi hal yang mutlak. Perubahan itu, menurut dia, semua universitas selain Binus akan turut merasakan dampaknya. Sedangkan siapa yang mampu bertahan atau tidak bergantung pada kampus itu sendiri.
"Dosen misalnya, banyak yang baru, Mereka sudah S-2 bahkan S-3. Otomatis ekspektasi semakin besar. Nah kalau terjadi ketidakselarasan ini akan mengganggu, dan ini saya jaga. Di dalam (internal kampus) itu suasananya harus enak supaya kita bisa menghadapi tantangan di luar," tutur ayah dua anak itu.
Pria yang lahir di kota batik Pekalongan itu mengungkapkan, menjaga kampus yang dipimpinnya bebas dari unsur politik. Hal tersebut, lanjut dia, membuat kampus menjadi netral sehingga tidak didominasi oleh blok tertentu.
"Binus University juga tidak pernah membedakan agama, budaya, dan lain sebagainya. Dengan internal yang kuat, seberat tantangan apa pun di luar, enjoy saja," sebutnya.
Menjadi Rektor Binus dalam dua periode, bagi Harjanto, tak jauh berbeda saat dia hanya menjadi dosen. Baginya, rektor merupakan tugas tambahan, sedangkan profesi utamanya adalah sebagai dosen.