JAKARTA - Era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah di depan mata, persaingan terbuka tak lagi bisa terhindarkan. Selama menerapkan kualitas dan kecepatan, tidak perlu takut menghadapi pasar bebas yang akan diberlakukan mulai akhir 2015 tersebut.
Hal itu yang disampaikan Hary Tanoesoedibjo (HT) saat menyampaikan orasi ilmiah dalam prosesi wisuda Institut Bisnis dan Multimedia (IBM) ASMI dan Sekolah Tinggi Ilmu Maritim (STIMar) AMI di Jakarta, Selasa (22/9/2015).
“Kompetisi MEA jangan membuat kita gentar. Tetap harus tegar, tidak perlu khawatir. Percayalah kalau kalian menerapkan kualitas dan kecepatan, kalian akan bisa bersaing dengan yang lain,” ujar HT disambut tepuk tangan ratusan wisudawan dan wisudawati.
CEO MNC Group itu mengatakan, jangan menganggap MEA sebagai ancaman. Namun, harus dihadapi sebagai sebuah tantangan. “Harus kerja keras, kerja cerdas, dan yang tidak kalah penting kerja berkualitas,” ungkap HT lalu tersenyum.
Dia menegaskan, prosesi wisuda bukan akhir tetapi justru menjadi awal dari sebuah perjuangan. “Kalian akan menghadapi situasi nyata sejak keluar dari ruangan ini. Mudah-mudahan kalian bisa berhasil, mudah-mudahan kalian bisa jadi seperti saya, bahkan lebih dari saya,” tutur HT.
Sebelumnya, dalam sambutannya Rektor IBM ASMI Anderson G. Kumenaung mengungkapkan kekhawatirannya atas pemberlakukan MEA. “Ujian berat bagi SDM kita karena harus bersaing terbuka dengan tenaga kerja dari negara ASEAN,” katanya.
Dia menuturkan, beberapa waktu belakangan dia mengamati kesiapan tenaga kerja dari negara lain dalam menghadapi MEA. Salah satu persiapan mereka, kata Anderson, mempelajari Bahasa Indonesia di Jakarta. “Ini bukti mereka mempersiapkan diri untuk menghadapi MEA,” terangnya.
Sementara itu, Dwi Komalasari, wisudawati STIMar AMI mengungkapkan persiapannya menyambut MEA. Salah satunya memperdalam bahasa asing. “Harus menguasai bahasa Inggris, ilmu-ilmu terapan maritim dikembangkan lagi karena dunia maritim persaingannya global,” katanya.
Orasi ilmiah yang disampaikan HT diakui Dwi membuat dirinya semakin siap menghadapi MEA dan dunia kerja. “Pak Hary Tanoe contoh entrepreneur yang harus dicontoh. Jarang sekali orang seperti dia yang memulai bisnisnya dari nol,” ungkapnya.
Hal serupa diungkapkan Daud Lamau, wisudawan IBM ASMI jurusan Manajemen SDM. Menurutnya, perjalanan karir HT sangat menginspirasinya. “Apa yang disampaikan benar-benar menggugah hati. Bahwa dari 1 orang bisa menjadi ribuan orang. Bapak Hary Tanoe membuat bisnis dari nol, dari 1 karyawan yakni dirinya sendiri sampai sekarang menjadi 30 ribu karyawan. Itu luar biasa,” tuturnya.
(Muhammad Saifullah )