Sri Sultan saat itu juga dipuja karena memprakarsai perubahan Kepanduan menjadi Kepramukaan. Atas jasanya tersebut Sri Sultan IX dinobatkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia pada 1988. Pengukuhan sebagai Bapak Pramuka Indonesia kepada Sri Sultan berlangsung di Dili, Timor-Timur; saat Dili masih menjadi bagian NKRI.
Sebelum berkiprah di pemerintahan dan Pramuka, Sri Sultan disibukkan mengurusi Keraton Yogyakarta. Ketika mengenyam pendidikan di Universiteit Leiden, Belanda pada kurun 1930-an, dia dijuluki oleh mahasiswa Belanda, "Sultan Henkie". Pada 2 Oktober 1988 di usia ke 76 tahun, Sri Sultan menghembuskan napas terakhir di Washington, Amerika Serikat.
Letjen Mashudi
Letnan Jenderal TNI (Purn) H Mashudi merupakan mantan Gubernur Jawa Barat pada tahun 1960-1970-an. Beliau adalah sosok penting ketika cabang-cabang Pramuka menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Selama lima periode dari 1978-1993, dia dipercaya menjadi Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka.
Letjen Mashudi meneruskan tugas Sri Sultan HB IX sebagai Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka. Mashudi menjadi pemimpin Pramuka selama lima periode dan lebih lama dari Sri Sultan HB IX yang selama empat periode memimpin Kwarnas Pramuka.