Seperti terlihat di SMA Negeri 4 DKI Jakarta Kota Banda Aceh, para siswa kelas X yang mulai bersekolah hari ini belajar dalam ruang terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan. Mereka antusias mengikuti perkenalan dengan guru-gurunya.
Kepala SMAN 4 DKI Jakarta Banda Aceh, Drs. Syarifuddin mengatakan, pemisahan ruang belajar ini atas arahan Dinas Pendidikan setempat, dalam rangka mewujudkan Banda Aceh sebagai model Kota Madani dan bersyariat Islam yang berlaku di Aceh. Menurutnya, kebijakan itu bukan hanya diwujudkan di sekolah bantuan warga DKI Jakarta ini saja, tapi juga dilakukan SMA lainnya yang ada di Kota Banda Aceh.
"Semua sekolah (SMA) di Banda Aceh menerapkan sistem pemisahan kelas," kata Syarifuddin kepada wartawan, Senin (27/7/2015).
Pemisahan ruang belajar ini diklaim mendapat dukungan dari orangtua siswa termasuk dari siswa non-muslim. Mereka menilai, sistem ini tidak hanya bisa mengurangi efek pergaulan bebas, tetapi juga membuat para siswa lebih fokus belajar tanpa terpengaruh dengan lawan jenisnya.
"Anak-anak lebih terarah dalam pembelajarannya. Karena kita tahu siswa SMA tingkat puberitasnya sangat tinggi," ujar Wakil Kepala SMAN 4 DKI Jakarta Banda Aceh bidang Kesiswaan, Drs. Muzakkir.
Tahap awal kebijakan pemisahan ruang belajar ini diberlakukan untuk kelas X. Meski demikian, tak tertutup kemungkinan ke depan akan berlaku untuk kelas XI dan XII. Pihak sekolah, kata Muzakkir, akan terus mengevaluasi perkembangannya.