JAKARTA - Sesi talkshow dalam kegiatan Genzone School Take Over di SMAN 55 Jakarta tak hanya memberikan hiburan bagi para siswa. Kegiatan ini juga menghadirkan konten kreator edukasi, Zahid Ibrahim.
Dalam kesempatan tersebut, Zahid membagikan kisah perjalanannya menemukan passion yang dimulai sejak masa sekolah menengah atas (SMA). Ia menceritakan kepada para siswa SMAN 55 Jakarta tentang proses menemukan minat hingga kini menjadi seorang konten kreator full-time.
“Awalnya aku bikin video tentang keseharianku di SMA. Dari situ pelan-pelan komunitas mulai terbentuk, sampai sekarang jadi salah satu jaringan komunitas pembelajaran,” ujarnya.
Zahid mengatakan ketertarikannya pada dunia konten berawal dari kebiasaan sederhana membuat video kehidupan sehari-hari saat bersekolah di Riau. Seiring waktu, kegiatan tersebut justru membuka banyak peluang, mulai dari traveling ke berbagai negara hingga belajar banyak hal baru.
“Perjalananku sebagai YouTuber mengantarkan ke banyak negara dan belajar banyak bahasa,” katanya.
Menurut Zahid, salah satu cara untuk menemukan potensi diri adalah dengan berani mengekspresikan diri, termasuk melalui media sosial. Ia menilai langkah tersebut penting untuk membangun koneksi dan menemukan komunitas yang sejalan.
“Cara untuk mengeksplorasi diri adalah dengan mempublikasikan apa yang kita pikirkan dan pelajari di dunia maya,” jelasnya.

Tak hanya membagikan kisah sebagai konten kreator, Zahid juga bercerita tentang fase dalam hidupnya ketika sempat merasa salah arah. Ia mengaku pernah berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Mesin setelah lulus SMA.
Namun, ia merasa tidak cocok dengan pilihannya tersebut. Akhirnya, Zahid memutuskan untuk mengundurkan diri dari kampus yang menjadi impian banyak orang.
“Aku nggak ngerasa terlalu cocok, sampai akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari ITB,” ungkapnya.
Keputusan itu sempat menuai pro dan kontra. Namun bagi Zahid, langkah tersebut justru menjadi titik balik untuk menemukan jalan hidup yang lebih sesuai dengan dirinya.
Setelah keluar dari ITB, Zahid menjalani masa gap year selama sekitar 1,5 tahun. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk belajar dan mencari peluang baru, termasuk mencoba beasiswa ke luar negeri.
Pada akhirnya, ia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Jepang dan kini tengah menunggu waktu wisuda.
“Selama gap year aku banyak belajar tentang kehidupan di negara lain, sampai akhirnya dapat kesempatan kuliah di Jepang,” katanya.
Zahid menegaskan bahwa perjalanan menemukan passion tidak selalu berjalan lurus dan kerap diwarnai tantangan. Namun, keberanian untuk mencoba dan mengambil keputusan besar menjadi kunci dalam menemukan jalan hidup yang tepat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik